Tokoh Central : Eksklusif “Satu Jam Bersama Iti Octavia Jayabaya, Kartini Era Ini”

Centralnews- LEBAK, Sebagai seorang Bupati Perempuan, Hj. Iti Octavia Jayabaya, SE, MM. menjadi gambaran Kartini era ini. Perempuan kelahiran Lebak, 4 Oktober 1978, merupakan pemimpin Kabupaten Lebak sejak tahun 2014 lalu. Menempuh pendidikan terakhir di pascasarjana Universitas Trisakti dengan meraih gelar S2 di Fakultas Ekonomi, menunjukan bahwa ia merupakan perempuan yang sangat sadar pendidikan dan menjunjung nilai-nilai Kartini.

Ditemui secara khusus, di Pendopo Bupati Lebak, Jumat (21 April 2017), Iti Octavia Jayabaya berbagi inspirasi sebagai pemimpin perempuan yang mengedepankan sikap-sikap Kartini masa kini.

Rahel Mutia, Pemimpin Redaksi centralnews.co.id (kiri) dan Iti Octavia Jayabaya, Bupati Lebak (kanan), melakukan sesi foto bersama seusai dialog ekslusif Kartini Era Ini. (foto: centralnews.co.id)

CentralNews: Ibu terlihat dekat sekali ya dengan rakyat, saya sempat melihat ibu dengan sabar dan penuh keceriaan memenuhi permintaan foto bersama seusai acara?

Iti Octavia Jayabaya: Ya harus dong, namanya juga saya sebagai pelayan masyarakat jadi harus bermasyarakat.

CentralNews: Dalam rangka hari Kartini, kami ingin mendengar alasan ibu mengapa tertarik menjadi pemimpin?

Loading...

Iti Octavia Jayabaya: Karena sekarang jamannya emansipasi wanita dan kesetaraan gender, negara juga memberi kesempatan untuk perempuan. Sehingga kita harus mengambil peran itu. Nah perempuan bisa berdiri sejajar artinya memiliki kecerdasan dan memiliki sumber yang bisa diberdayakan dan tentunya perempuan itu harus pintar dan harus cerdas. Pintar disini bukan berarti menggurui, tetapi pada hakikatnya harus paham juga kodratnya sebagai seorang perempuan.

CentralNews: Lalu terkait perempuan, apakah Lebak memiliki program-program khusus untuk membantu dalam memajukan perempuan?

Iti Octavia Jayabaya: Ada, kita ada Dinas P2-PA (Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak) guna mewujudkan program-program kesetaraan gender. Baik itu melalui kegiatan PKK, Dharma Wanita, program Pemeberdayaan Perempuan lainnya yang tergabung di GOW (Gabungan Organisasi Wanita). Kita juga menyediakan perlindungan hukum berupa bantuan hukum terhadap KDRT,  terutama bagi masyarakat yang rendah penghasilannya. Ada Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (DPMD), dimana ibu-ibu itu berperan dalam memanfaatkan pekarangan rumah. Serta program Keluarga Berencana. 

CentralNews:Sebagai pemimpin Lebak, juga sebagai Istri dan ibu rumah tangga bagaimana cara menyeimbangkan peran-peran tersebut?

Iti Octavia Jayabaya: Hakikatnya perempuan harus paham dengan kodratnya. Sekarang negara dan pemerintah atas perjuangan kartini, sehingga memiliki kesetaraan. Dan dapat berperan aktif dalam pembangunan, interaksi sosial dan kemasyarakatan, karena itu kita boleh membantu pembangunan apapun sebagai siapapun. Tapi (meski demikian) tetap ingat kepada keluarga. Kalau kita sebagai perempuan yang sudah menikah, tetap harus patuh kepada suami. Kalau belum berumah tangga ya patuh kedapa orang tua. Selama untuk kebaikan kita. Saya kebetulan belum ada anak, sehingga lebih fleksibel. Suami ada di Jakarta, tapi saling memahami. Jadi tau bagaimana saya berkegiatan dan apa saja, sehingga tidak ada kekhawatiran.

CentralNews: Bagaimana pandangan ibu terkait kartini?

Iti Octavia Jayabaya: Kartini memperjuangkan kesetaraan, yang tadinya perempuan ini termarjinalkan, tidak boleh mendapatkan pendidikan yang layak, padahal dia sendiri dari keluarga priayi. Artinya terjadi degradasi bangsa, yang tadinya perempuan termarjinalkan dan yang bisa mengenyam pendidikan itu hanya laki-laki. Dulu perempuan tugasnya hanya di kasur, di dapur dan di sumur. Padahal sebenarnya perempuan memiliki peranan yang penting dalam keluarga maka dari itu perempuan diberi kesempatan dalam pendidikan. Karena sekarang pemerintah ingin melahirkan generasi-generasi emas, jangan sampai salah persepsi bahwa guru pertama adalah guru di sekolah, padahal ibu itu adalah madrasatul ula, atau sebagai pendidik pertama di keluarga.

CentralNews: Sebagai perempuan, apakah ada kendala dalam memimpin?

Iti Octavia Jayabaya: Banyak, karena di Lebak masih menjadi daerah tertinggal, tentu banyak kendala. Kadang masih dianggap patriaki, masih primitif, tapi kita selalu usahakan melalui sosialisasi. Seiring perkembangan jaman kemudian perempuan diberi keleluasaan. Yang penting tau peran, jangan sampai menyerobot peran laki-laki. Kita harus bisa menjadi penyeimbang. Karena runtuhnya perempuan bisa menyebabkan keruntuhan suatu negara.

CentralNews: Bagaimana sikap seharusnya dalam memperingati Hari Kartini?

Iti Octavia Jayabaya: Walaupun ini hanya seremonial, tetapi cara memperingati yang sebenar-benarnya adalah dengan mengembangkan kapasitas kita dan kecerdasan kita dengan pendidikan. Bukan hanya seremonial tapi harus diimplementasikan, harus terus belajar. Termasuk saya.

CentralNews: Apa pesan dan harapan untuk perempuan era ini?

Iti Octavia Jayabaya: Jangan sampai emansipasi disalahartikan, tetapi kita ikut eksis dalam pembangunan. Intinya kalau perempuan sudah mengerti agama, dia akan tau bagaimana cara menempatkan diri sesuai kapasitas dan kapabilitasnya, dimana pun kita berdiri. Mari kita berperan dimanapun kita berada untuk kemajuan kita dan kemajuan daerah kita. Karena daerah akan maju jika masyarakatnya ikut terlibat. Terlebih lagi Lebak yang penduduk perempuannya lebih banyak. Jadi ambilah peran itu.  Selamat kartini bagi kita semua! (irn)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here