Tokoh Central : Eksklusif “Satu Jam bersama Nuryati Solapari, Mantan TKI yang Kini Jadi Pendidik”

Centralnews- Serang, Nuryati Solapari seorang mantan TKI yang kini jadi pendidik. Keinginan besar untuk meneruskan pendidikan dan bersikeras menggapai segala cita-cita, mengantarkan dirinya menjadi Doktor lulusan Unpad di Fakultas Hukum Universitas Padjajaran dengan hasil memuaskan. Bukan hanya sebagai dosen Hukum di Universitas Tirtayasa, Serang, Banten, Nuryati juga kini menjadi konsultan di Kementrian Luar Negri serta memajukan mantan TKW sebagai aktivis pemeberdayaan perempuan.

Lahir di Subang, Jawa Barat pada 2 Juni 1979, dan memutuskan menjadi TKI setelah tamat dari SMA Prisma, Serang dengan predikat lulusan terbaik, membawanya menjadi Solapari sekarang, pendidik bergelar Doktor yang masih berkeinginan untuk mejadi seorang Guru Besar. Bersama centralnews.co.id, Dr. Nuryati Solapari, S.H., M.H., Berbagi inspirasi dalam dialog istimewa Tokoh Central berkenaan dengan Hari Buruh dan Hardiknas. Ditemui di Fakultas Hukum Untirta, Nuryati menceritakan kehidupannya.

Rahel Mutia, Pimred centralnews.co.id (kiri) berfoto bersama Nuryati Solapari, Mantan Tki bergelar Doktor (kanan), seusai wawancara eksklusif May day dan Hardiknas. moncler definition d (31/04/17) di depan Gedung Fakultas Hukum, Untirta.

Centralnews: Boleh diceritakan bagaimana kehidupan awal Ibu, kemudian memutuskan menjadi TKW, hingga meraih gelar Doktor?

Nuryati Solapari: Tahun 98 saya berangkat menjadi TKI ke Arab Saudi, cita-cita saya satu yaitu ingin melanjutkan pendidikan. Karena saat itu ekonomi dalam keadaan tidak mampu, ditambah perkembangan ekonomi di Indonesia yang mengalami moneter, jadi saya rasa sangat sulit untuk mendapatkan pekerjaan. Jangankan untuk mencari pekerjaan, yang ada saja banyak yang di PHK. Sehingga saat itu saya memutuskan jadi TKI dua tahun untuk mengumpulkan modal kuliah, lalu pulang untuk melanjutkan pendidikan. 

Centralnews: Apa cita-cita awal Ibu hingga akhirnya memutuskan untuk meraih pendidikan setinggi-tingginya dan dengan hasil memuaskan?

Loading...

Nuryati Solapari: Cita-cita awal saya ingin menjadi pengacara memang, tapi semakin lama saya semakin haus akan ilmu sehingga saya ingin melanjutkan pendidikan. Kenapa harus berpendidikan tinggi, karena  di tangan perempuanlah  generasi penerus bangsa itu dicetak. Kenapa sekarang jadi dosen, ya karena saya ingin berbagi ilmu dengan orang banyak. Kalau kita tidak bisa berbagi harta, ya maka bagikan lah ilmu. 

Centralnews: Adakah sosok yang menginspirasi dan mempengaruhi cara berfikir Ibu?

Nuryati Solapari: Saya mensyukuri, Allah mempertemukan saya dengan dua perempuan hebat. Pertama ibu saya, kemudian ke dua majikan perempuan saya. Ibu saya tidak berpendidikan, tapi dia sangat mendukung saya untuk terus melanjutkan pendidikan. Kemudian majikan saya seorang dokter, walaupun dia wanita karir tapi dia sangat peduli dengan keluarganya. Dua perempuan itu yang mengilhami saya sehinngga secara tidak sadar mempengaruhi pola pikir saya dan sikap saya dalam kehidupan sehari-hari.

Centralnews: Bisa diceritakan bagaimana keluarga majikan di Arab? Apakah mereka tau dan mendukung keinginan Ibu?

Nuryati Solapari: Majikan saya sangat baik. Dia bilang, dia baru mendapat TKI yang ingin jadi TKi karena ingin sekolah. moncler beanie boots mens Dari keempat TKI yang sebelumnya, dia bilang tidak ada yang seperti saya. Mereka hanya berpikir hanya bangun rumah, bayar hutang, beli sawah dan sebagainya. Saya jawab, saya itu orang fakir, jadi butuh kerja keras yang ekstra untuk menggapai segala cita-cita saya. Kebetulan beliau baik sekali, kami beri waktu untuk tidur siang, karena saya tidak terbiasa dengan itu, maka saya manfaatkan untuk membaca dan belajar. 

Centralnews: Mengumpulkan uang untuk biaya kuliah hingga mengharuskan ibu menjadi TKW, hidup juga kadang di atas dan di bawah, kemudian adakah saat-saat merasa paling rendah dalam hidup yang kemudian membentuk Ibu menjadi Nuryati Solapari yang sekarang?

Nuryati Solapari: Banyak yang mencibir, ‘ko lulusan terbaik mau jadi TKI sih,’ . Melihat teman-teman mereka melnjutkan kuliah. Kemudian itu yang memulatkan niat saya untuk menjadi TKI demi melanjutkan sekolah. Dipenampungan saya sampai tidur depan toilet, dicemooh lagi karena saya bawa-bawa buku di kardus bekas mie, dan baca buku ketika TKI yang lain asyik mengobrol, ‘jadi TKI buat kuliah, di sana gak akan ada waktu buat belajar, belagu,’.  Tapi saya tidak memusingkan, saya tetap fokus. Dan itu yang kemudian menjadi titik balik saya. Kalau mau menuntut ilmu itu, harus niat. Niatnya ikhlas, karena godaanya banyak. Jadi saya mumpung dekat dengan Baitullah, jadi saya meminta pertolongan Allah semoga diberi kemudahan. 

Centralnews: Begitu banyak berita mengenai penganiayaan terhadap TKW, apa sebelum memutuskan bekerja di negri orang ada kegalauan, ketakutann dan kekhawatiran?

Nuryati Solapari: Kalau dikatakan takut atau gak soal penganiayaan, saya agak takut. monster beats cord customer service Tapi tidak peduli, karena saya fokus dengan indahnya  meneruskan pendidikan sehingga mengenyampingkan bagaimana seramnya penganiayaan dan lain sebagainya. Untuk meminimalisir segala tindak kejahatan, saya membuat kode di kerudung saya menggunakan benang. Saya tulis nomor telepon Lurah dan semua yang saya kenal menggunakan gambar matahari untuk angka nol, dan daun kelapa untuk angka satu dan lain sebagainya. Saya prepare untuk keamanan.

Centralnews: Berbicara mengenai tenaga buruh, berkenaan dengan May day, menurut ibu apakah keadilan buruh di Indonesia sudah adil?

Nuryati Solapari: Keadilan itu relatif, bagi saya adil belum tentu bagi orang lain. Keadilan itu abstrak, untuk mencapainya tidak mudah. Harus ada keseimbangan lahir dan batin. Kalau berkaitan dengan buruh, saya rasa sampai kapan pun akan terus diperjuangkan, memenuhi atau tidak tergantung bagaimana memaknainya. Disamping itu semua bahwa negara ini harus selalu berusaha melakukan keadilan bagi setiap warga negaranya, karena negara ada untuk bertanggung jawab pada rakyatnya sehingga mereka merasa adil. Kalau ditanya apa buruh di Indonesia sudah mendapat keadilan, saya rasa harus ada pemikiran yang mendalam. Karena jika negara sudah adil dan sejahtera saya yakin kemiskinan juga tidak akan ada. tetapi buktinya tingkat kemiskinan dan pengangguran makin tinggi, kalau negara sudah adil dan sejahtera, saya yakin teman-teman TKI tidak akan memutuskan jadi TKI sebagai pekerja domestik.

Centralnews: Apa tanggapan ibu dengan buruh-buruh  yang merasa puas dengan pekerjaannya kemudian melupakan pendidikan?

Nuryati Solapari: Perlu dibuat mekanisme, sebenarnya pendidikan bukan segala-galanya, tapi segala-galanya berawal dari pendidikan. Pendidikan adalah jembatan menuju sukses, tapi bukan faktor utama yang menyebabkan seseorang sukses. Pendidikan itu kulitnya pahit tapi dalamnya manis dan wangi. Banyak sekarang teman-teman yang sadar pendidikan juga saat ini, karena pendidikan merupakan indikator IPM (Indeks Pembangunan Manusia). Saat ini banyak buruh yang melanjutkan sekolah dan itu sudah baik, tinggal bagaimana sistemnya (advokasi dan pendidikan) dipermudah agar bisa dirasakan bersama-sama. 

 (rel)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here