Belajar dari Ki Hajar Dewantara

Centralnews-SERANG, Hari Pendidikan Nasional diperingati setiap tanggal 2 Mei setiap tahunnya. Peringatan ini dihadiahkan untuk Ki Hajar Dewantara untuk hari kelahirannya. Dinobatkan sebagai Bapak pendidikan, Ki Hajar hidup di masa transisi Indonesia yang baru mengenal pendidikan.

Ki Hajar Dewantara adalah Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan yang pertama. Menurutnya keluarga adalah central pendidikan, kemudian sekolah, baru lingkungan. Pencetus Tut Wuri Handayani itu juga membangun Taman Siswa, yang menurut Anies Baswedan dalam pembicaraannya di sebuah talkshow TV nasional menerjemahkan sebagai pendidikan yang digambarkan dengan tempat belajar yang menyenangkan, senang hati pergi kesana dan berat hati meninggalkannya, sayangnya sekarang berlaku sebaliknya.

Di tengah keseriusannya mencurahkan perhatian dalam dunia pendidikan di Taman Siswa, ia juga kerap rajin menulis. Tema tulisannya beralih dari nuansa politik ke pendidikan dan kebudayaan berwawasan kebangsaan. Beratus-ratus tulisan, dan melalui tulisan-tulisan itulah dia berhasil meletakkan dasar-dasar pendidikan nasional bagi bangsa Indonesia.
Sebelum wafat pada tanggal 28 April 1959 di Yogyakarta, beliau berpesan pada anaknya, “Jika saja ada yang bertanya seorang apakah aku, seorang yang sosialis, idealis, atau humanis. Katakan lah aku seorang Indonesia,” dalam pesan tersebut dapat disimpulkan bahwa beliau sangat mencintai Indonesia.
Karena kecintaanya itu lah maka 2 Mei yang berkenaan dengan hari lahirnya, ditetapkan sebagai peringatan Hardiknas serta diabadikan juga sebagai seorang tokoh dan pahlawan pendidikan (bapak Pendidikan Nasional). Bukan hanya itu, namanya juga ditetapkan sebagai Pahlawan Pergerakan Nasional melalui surat keputusan Presiden RI No.305 Tahun 1959, tanggal 28 November 1959. Penghargaan lain yang diterimanya adalah gelar Doctor Honoris Causa dari Universitas Gajah Mada pada tahun 1957.  (rel)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here