Nasib Nelayan di Binuangen Lebak Sangat Memprihatinkan

Centralnews – LEBAK, Kehidupan para Nelayan yang notabene nya mengandalkan hasil tangkapan laut untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, kini nasibnya semakin terpuruk. Di Binuangen Rabu 03/05/2017 Kecamatan Wanasalam Lebak Banten, Para nelayan masih harus merogoh uang pribadi untuk masuk ke Tempat Pelelangan Ikan (TPI).

Menurut salah satu nelayan di Binuangen yang tidak ingin namanya di sebutkan identitasnya, setiap harinya ia harus membayar retribusi sebesar 5% untuk hasil tangkapan laut yang terjual di pelelangan.

“Kalau menurut perda memang sudah di atur retribusi sebesar 3% dan itu di bebankan ke bakul (pemenang lelang), dan setelah habis terjual, pengelola memberikan uang total hasil penjualan, namun harus di potong retribusi di luar perda sebesar 5%,”ujarnya.

Walau merasa keberatan namun para nelayan terpaksa menyetujui aturan tersebut, karena jika tidak mengikuti aturan maka tidak di perbolehkan untuk melakukan pelelangan ikan di TPI Binuangen.

“Mau gimana lagi, kalau tidak di ikuti mau di jual kemana hasil tangkapannya, kalau bicara penghasilan beberapa bulan ini menurun, dua hari di laut paling bersih bawa uang 70 ribu sampai 100 ribu, pertama karena nelayan semakin banyak mungkin hasil tangkapan ikan jadi semakin berkurang,”ucap nya

Loading...

Perlu diketahui untuk melakukan satu kali melaut, Para nelayan di Binuangen memerlukan modal hingga 7 juta rupiah, untuk keperluan bahan bakar serta menitipkan nafkah untuk keluarga selama ditinggal melaut.

Ahir-akhir ini untuk memenuhi kebutuhan tersebut biasanya para nelayan mandiri ini berhutang ke rentenir atau juragan kapal. Mirisnya TPI Binuangen menambah beban penderitaan mereka dengan menarik retribusi diluar perda sebesar 5%, yang semestinya dapat dipergunakan untuk kebutuhan sehari hari para nelayan. (andri)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here