Hatta: Bapak Bangsa Penggila Baca

Centralnews- Serang, Mari bercerita soal Mohammad Hatta, ‘pendamping’ Soekarno dalam masa kepemimpinannya membebaskan rakyat dari genggaman kejam para penjajah.

Dialah Moh. Hatta, sebagaimana diceritakan dalam Seri Buku Tempo: Bapak Bangsa, Hatta Jejak yang Melampaui Jaman, ia gemar menajamkan pena dan memiliki analisa yang tak bisa diragukan kepiawaiannya. Sejak umur 18 tahun, sebelum masuk universitas, tulisannya dimuat dalam majalah Jong Sumatra. Tahun 1920 masa itu, ia menulis personifikasi Indonesia dalam tulisan Hindiana yang ia gambarkan sebagai janda yang minta kawin lagi. Tulisannya bukan soal romanpicisan biasa, lebih dari itu. Penulisannya melukiskan bahwa Bapak bangsa berkacamata itu memiliki keluwesan dalam sastra dengan didasari bacaannya yang luas.

Menjadi pemuda minoritas yang begitu peduli terhadap bangsanya Indonesia yang konsepnya belum tergambar karena masih dibawah bayang-bayang penjajahan.  Hatta menjadikan penanya sebagai senjata untuk membebaskan rakyatnya. Saat di belanda pun sebagai mahasiswa, ia tidak berhenti, perpustakaan dan tumpukan buku menjadi pusat hidupnya. Hatta dan kawanannya yang sama-sama pemuda adalah yang pertama memperkenalkan nama pertiwi dengan “Indonesia”.

Karena tulisan-tulisannya yang sangar penuh kritikan tajam untuk pemerintah kolonial, Hatta ditahan pada tahun 1927. Ia mendobrak mindset dikalangan tentara bahwa tulisan-tulisan lebih berjasa dan menjadi sebaik-baiknya senjata.

Walau ditahan, tapi ia tetap merakit ‘bom’ kata-kata dibalik bilik penjara yang sempit. Ia menulis pidato untuk dibacakan di ruang pengadilan selama tiga setengah jam. Indonesia Merdeka, atau Indonesia Vrij dalam Bahasa Belanda menjadi tembakan tepat sasaran yang ditujukan pada kekuasan kolonial, tepat menusuk ulu hati.

Loading...

Tidak terhenti, sepulangnya dari Belanda ke Indonesia dengan diraihnya gelar sarjana, karena tulisan-tulisannya ia dibuang ke Boven Digul, Irian, sebuah wilayah pembuangan. Tapi si kutu buku itu membekal senjata-senjata bersamanya; 16 peti buku. Baginya cukup amunisi, untuk meluncurkan tulisan-tulisan nan menggemparkan. Hatta memang tak bisa dibungkam.

Ini yang membedakannya dengan Soekarno, mereka sama-sama orator. Bung Karno membuat penjajah getar lewat pidatonya yang menggelegar, tapi Hatta lewat kalimat-kalimatnya yang pedas dan menggetarkan.

Saking menggilanya pada buku dan Indonesia, Hatta menepati janjinya akan kawin hanya setelah Indonesia merdeka. Hatta akhirnya menikahi Rahmi Rahim pada November 1945, tak lama setelah proklamasi membebaskan negri dari para Kolonial Belanda. Rahmi dihadiahi emas kawin yang tak biasa seperti yang dipikirkan orang-orang kebanyakan, Buku Alam Pikiran Yunani yang ia tulis sendiri.

Dalam kesibukannya menata negara setelah merdeka, ia tetap menyediakan ruang untuk menulis buku atau artikel. Sampai wafatnya pada tahun 1980, Hatta meninggalkan 30 ribu judul buku, menjadikannya sebagai manusia langka sebagai negarawan yang gemar menulis.

Kalimat terkenalnya dari seorang Hatta: “Dengan buku, penjarakanlah aku dimana saja. Karena dengan buku aku bebas…” (rel)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here