Eksklusif Bersama Budiharto Setyawan, Spesial HUT Bank Indonesia Ke – 64

 

Vika Komalasari, Reporter centralnews.co.id (kiri) bersama Budiharto Setyawan, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Banten (kanan) dalam wawancara eksklusif Tokoh Central. (foto: centralnews.co.id)

Centralnews – TOKOH CENRAL, Bank Indonesia memperingati hari jadi ke-64 pada tanggal 1 Juli 2017 lalu. HUT BI kali ini bertemakan, ” Bank Indonesia di Setiap Makna Indonesia “. Untuk memperingati pertambahan usianya, secara khusus Centralnews Banten dalam Tokoh Central edisi kali ini telah berbincang secara eksklusif bersama Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Banten, Budiharto Setyawan.

Berikut hasil wawancara eksklusif kami, langsung dari Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Banten yang bertempat di Jl. Raya Pandeglang, Palima, Kota Serang.

Bank Indonesia merupakan suatu  Lembaga Negara Independen yang mempunyai otonomi penuh.  Bisa dijelaskan, apa yang dimaksud otonomi penuh ini bagi Bank Indonesia dan system perbankan di Indonesia?

Jadi, pemberian indenpedensi kepada Bank Indonesia ini sesuai dengan undang undang Bank Indonesia No. 23 Tahun1999, arti dari independen disitu bahwa di dalam pelaksanaan  tugas – tugasnya Bank Indonesia diberi kewenangan untuk menetapkan kebijakan – kebijakannya tanpa campur tangan dari pihak lain, tapi bukan berarti tanpa campur tangan dari pihak lain itu tidak boleh berkoordinasi, kita tetap berkoordinasi dengan pemerintah maupun pihak-pihak lainnya yang memang terkait. Kalau dengan perbankan kita itu sekarang mempunyai tugas dibidang makro prudential, kalau dulu ada mikro prudential atau yang dimaksud adalah individu perbankan yaitu dimana Bank Indonesia mengawasi perbankan perindividu dan saat ini makro prudensial ini yaitu dimana Bank Indonesia mengawasi industri keseluruhan, sedangkan mikro prudensial saat ini ditangani oleh otoritas jasa keuangan jadi memang ada independensi. Bank Indonesia independen, dan OJK juga independen

Loading...

Dalam kapasitasnya sebagai bank sentral, Bank Indonesia mempunyai satu tujuan tunggal, yaitu mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah. Selama ini apa saja yang menjadi faktor – faktor permasalahan kestabilan nilai rupiah tersebut?

Mungkin perlu dijelaskan terlebih dahulu, bahwa kestabilan nilai rupiah merupakan tujuan akhir dari kebijakan moneter yaitu menjaga, memelihara kestabilan nilai rupiah. Kestabilan nilai rupiah itu tercermin dari tingkat inflasi dan kedua terhadap kurs dari negara lain. Nah untuk mencapai kedua hal tersebut ada berbagai kebijakan yang dilakukan Bank Indonesia yang murni dilakukan oleh Bank Indonesia terkait dengan sisi permintaan (Demand), permintaan ini terkait ketika kita memiliki uang sekian rupiah dan kita bisa membeli apa saja, itu yang disebut demand atau permintaan, kemudian Bank Indonesia memiliki beberapa kebijakan yang sering diumumkan setiap bulan seperti suku bunga acuan, yang saat ini disebut Seven Day Reverse Repo Rate. Nah ini merupakan salah satu instrument untuk menjaga kestabilan nilai rupiah dari sisi inflasi karena bank Indonesia memiliki target inflasi dari sisi permintaan. Tetapi ternyata inflasi itu tidak hanya dari sisi permintaan melainkan juga dari sisi penawaran (Supply). Supply itu adalah berapa jumlah pasokan yang tersedia, ada juga yang dipengaruhi oleh kebijakan – kebijakan pemerintah dan ini diramu sedemikian rupa oleh Bank Indonesia baik secara dirinya sendiri dari sisi demand ataupun juga kerjasama dengan pemerintah dan juga kepolisian untuk dari sisi penawaran. Jika dari sisi nilai tukar atau kestabilan nilai tukar maka Bank Indonesia memiliki berbagai kebijakan untuk menjaga kestabilan nilai tukar supaya tidak mempengaruhi inflasi, yang dalam artian jika nilai tukar melemah atau menguat sangat tajam maka bagi perekonomian itu tidak baik maka dari itu Bank Indonesia memiliki kebijakan hedging atau lindung nilai. Kebijakan ini bertujuan saat nilai tukar bergejolak dan ketika saya harus memenuhi kewajiban disuatu periode tertentu maka kursnya stabil, kurs yang sudah saya sepakati ini dengan nilai tertentu tidak akan terpengaruh dari gejolak tersebut.

Bagaimana peran Bank Indonesia terhadap perkembangan laju inflasi dan nilai tukar rupiah terhadap mata uang dunia saat ini?

Saat ini kita cukup berbesar hati dan berbangga karena untuk pengendalian inflasi ini levelnya sudah naik sampai level Presiden, jadi dilevel ini Presiden sudah konsen terhadap pengendalian inflasi, jadi beliau (Presiden) beberapa kali melakukan pertemuan menyampaikan bahwa pertumbuhan ekonomi itu penting tapi akan lebih berkualitas bila inflasinya rendah dan juga stabil. Dan untuk di level nasional kita sudah ada tim pengendalian inflasi level nasional. Tetapi untuk di daerah, Bank Indonesia menjalin kerjasama dengan Pemerintah Provinsi atau SKPD baik di Provinsi maupun Kabupaten dan Kota sehingga kita memiliki tim pengendalian inflasi daerah.

Dua organ ini tadi, tim pengendalikan inflasi nasional dan tim pengendalian inflasi daerah dijembatani dengan POKJANAS atau Kelompok Kerja Nasional Tim Pengendalian Inflasi Daerah.  Sehingga jika dilevel nasional, setiap tahunnya dilakukan Rakornas DPID, Rapat Koordinasi Nasional ini langsung dipimpin oleh Bapak Presiden. Hal ini baru dari sisi inflasi.

Jika di Daerah Banten kita memiliki tim inflasi daerah yang diketuai sesuai daerahnya. Untuk provinsi oleh provinsi, kabupaten oleh kabupaten, dan begitu pun dengan kota. Bank Indonesia kebanyakan hanya sebagai wakil. Kemudian jika dari sisi nilai tukar seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, kita memiliki penentuan mengenai hedging atau lindung nilai supaya masyarakat yang memiliki eksplorasur terhadap nilai tukar pada saat jatuh temponya ini tidak terpapar dengan gejolak nilai tukar.

Selanjutnya kita dan tim melakukan operasi pasar terbuka yaitu biasanya orang bertanya berapa kurs yang ditetapkan Bank Indonesia? Jawabannya adalah bahwa Bank Indonesia tidak pernah menetapkan harga harus sekian tetapi tugas Bank Indonesia adalah menjaga supaya kurs tidak bergejolak terlalu tajam karena bila bergejolak terlalu tajam khususnya dalam dunia usaha maka tidak bisa memproyeksikannya. Contohnya dalam setahun usaha saya akan tumbuh sekian persen tapi bila nilai tukarnya bergejolak luar biasa kita tidak akan bisa mengatur itu. Maka dari itu Bank Indonesia mengoperasikan pasar terbuka di pasar valas, jadi kalau pernah dengar ada kegiatan intervensi dan ada kegiatan sterilisasi, suatu langkah supaya nilai tukar tersebut dapat stabil .

Berikutnya kurs boleh melemah ataupun menguat, tetapi jangan sampai bergejolak dan harus sesuai dengan kondisi fundamental perekonomian. Sebagai contoh harga celana levis, karna celana levis ada di negara kita dan juga Negara lain, ketika satu harga celana levis adalah Rp. 600.000 dan jika satu harga celana levis di Sidney dengan menggunakan mata uang Australia yang seharga 60 Australian Dollar, berarti jika 60 dollar itu setara dengan Rp. 600.000 maka wajar jika 1 Australian Dollar adalah Rp. 10.000, tapi ketika kita membeli celana levis di Indonesia seharga Rp. 600.000 dan di Australia satu celana itu hanya seharga 40 Dollar Australian maka rupiah itu terlalu lemah, karena nilai 40 Dollar Australian setara dengan Rp. 15.000. Jadi membeli celana levis disini dengan disana konversinya itu setara berarti rupiah sesuai dengan fundamental.

Seperti apa penilaian bapak terkait laju pertumbuhan dan perkembangan perekonomian di Provinsi Banten sendiri saat ini? Apakah sudah berjalan dengan baik atau masih jauh tertinggal?

Kalau jauh tertinggal tentunya tidak, karena bila kita bandingkan dengan pertumbuhan ekonomi nasional, pertumbuhan perekonomian Provinsi Banten selalu relatif jauh lebih tinggi dibandingkan nasional. Tetapi kalau kita bicara di kawasan Jawa terkadang lebih tinggi dibandingkan provinsi yang lain dan terkadang lebih rendah. Untuk triwulan I ini, kita setelah DKI atau tertinggi kedua adalah Provinsi Banten dan kita lebih tinggi dari nasional. Namun kita tidak boleh langsung bangga karena kita ini sesungguhnya dihadapkan kepada pertumbuhan ekonomi yang tetap meningkat.

Disisi lain, kita amati pertumbuhan ekonomi Banten ini di dua tahun terakhir sempat menurun, Hal ini perlu dicermati untuk mencari sumber perekonomian yang baru untuk menunjang pertumbuhan ekonomi di Provinsi Banten.

Jika berbicara dengan bapak Gubernur, bapak Ketua DPRD, mereka menginginkan pertumbuhan ekonomi di Banten ini semakin lebih cepat. Selama ini kita mengandalkan industri, tetapi industri ini saingannya juga banyak, untuk itu kita harus mencari sumber – sumber ekonomi baru apakah itu dari sisi makanan dan minuman. Karena makanan dan minuman ini semua orang membutuhkannya, jadi makanan dan minuman itu bisa dikembangkan. Lalu berikutnya yaitu pariwisata, kita memiliki Tanjung Lesung tetapi sebenarnya bukan hanya itu saja kalau kita baca dibeberapa media, bapak Gubernur ingin menjadikan Banten Lama menjadi kawasan wisata dan ikon baru. Yang sebenarnya sudah ada ikon – ikon wisata, hanya saja akan dikembangkan menjadi lebih menarik.

Nah jika objek – objek wisata itu dikelola lebih baik dampak inputnya akan banyak diantaranya adalah adanya orang berjualan makanan dan minuman dan juga ada orang-orang yang berjualan oleh-oleh, maka UMKMnya akan berkembang lalu industrinya berkembang, Hal ini diharapkan juga bisa mendukung perekonomian.

Dalam menjaga laju inflasi, bagaimana langkah BI dalam mempertahankan stabilitas ekonomi dan sistem keuangan khususnya di Wilayah Banten agar pertumbuhan ekonomi tetap terjaga?

Jika pertumbuhan ekonomi Banten cukup tinggi dan jika inflasinya juga tinggi maka ini kurang berkualitas yang artinya pertumbuhan ekonominya tergerus oleh inflasi. Nah untuk itu, kita berupaya bersama – sama dengan tim inflasi daerah untuk bisa menjaga inflasinya ini relatif rendah dan stabil, kita juga lakukan upaya-upaya mencoba atau menjajaki kerjasama bersama dengan daerah lain baik itu di dalam Provinsi Banten itu sendiri. Sebagai contoh Lebak dan Pandeglang yang merupakan penghasil beras, tetapi saat ini langsung dikirim keluar daerah atau ke Jawa Barat untuk diolah dan nantinya masuk lagi berasnya ke Banten.

Sebaiknya diolah dulu di Banten, dinikmati masyarakat Banten selebihnya bisa dibawa keluar. Untuk itu kita jajaki dengan menjalin kerjasama dengan DKI dan Jawa Barat. Nah kita punya kerjasama di tim pengendalian inflasi wilayah JAKBARTEN (Jakarta, Jawa Barat , Banten) dengan pimpinan daerah yang baru saja kita rapat koordinasi, sehingga ketersediaan pasokan dimasing-masing daerah itu terjaga, distribusinya juga terjaga dan juga harganya terjangkau.

Menurut bapak, komponen inflasi administered prices atau kenaikan harga yang ditentukan pemerintah akankah dapat mendorong tingginya inflasi ditahun ini?

Jadi kalau inflasi itu jika boleh disagregasi atau dipecah – pecah komponennya bisa terbagi menjadi tiga yaitu Volatile Food, Administered Price, Core Inflation. Kalau tadi yang demand atau permintaan masuknya yang core karena dia resisten atau menetap disistem perekonomian, jika seseorang kebanyakan uang maka corenya pun naik, tetapi jika Volatile Food jika pasokannya terbatas harganya bisa naik. Nah kembali kepertanyaan tadi mengenai Administered Price yaitu jika pemerintah melakukan kebijakan harga tadi dari komoditas yang diaturnya ya otomatis juga mempengaruhi inflasi, jadi contohnya pemerintah melakukan kebijakan penyesuaian harga listrik, dengan mencabut subsidi yang 900 VA. Kemudian hal tersebut membuat harga yang berpengaruh menjadi naik dan itu berdampak kepada inflasi. Pemerintah juga melakukan tindakan tarif Bea Cukai rokok ya otomatis harganya naik, dan selanjutnya dalam rangka Idul Fitri pemerintah menyesuaikan Tarif Tuslah (Tarif Angkutan Lebaran) baik itu angkutan darat dan udara, yang otomatis naik pula. Untuk itu di tim pengendalian inflasi di daerah tidak bisa karena semua kebijakan dari pusat, yang kita bisa jaga yaitu dampak atau efeknya jangan sampai angkutan umum di daerah menaikkan harga sewenang-wenang. Boleh mereka menaikkan harga tetapi yang wajar sehinga inflasinya juga terjaga karena tarif angkutan itu dampaknya bisa kemana-mana. Karena alasannya ongkos angkutannya naik maka harga sayuran jadi naik, ini yang kita jaga jangan sampai terjadi. Sementara itu Administered Price memang dia berpengaruh terhadap inflasi tetapi kita coba berkoordinasi di tingkat nasional dengan kebijakan pemerintah pusat dalam waktu tertentu. Seperti saat ini adalah kenaikan harga BBM, pada akhirnya pemerintah menunda untuk bulan Juli karena ada kebijakan One Price Policy sehingga ditunda kenaikannya supaya tidak berdampak ke inflasi.

Terkait permasalahan Resiko Geopolitik di sejumlah negara di eropa terkait menguatnya gelombang populism akankah ini berdampak dalam perekonomian indonesia?

Khususnya Bank Indonesia selalu mengamati dampak dari kondisi global terhadap perekonomian domestik, seberapa kuat akan mempengaruhi kondisi perekonomian domestik. Jadi, bukan hanya kondisi di Eropa tetapi kita juga amati yang di Amerika dan Tiongkok lalu di Jepang karena mereka mitra dagang utamanya Indonesia. Alhamdulillah Trump Effect sudah mereda dan untuk Eropa ini masalah pimpinan di Perancis juga sudah mereda, brexit juga mereda, Kita melihat dari sisi perekonomian ternyata dari hasil release dari BPS kemarin effort kita meningkat, kursnya kita di banten juga meningkat. Kondisi geopolitik yang tadinya sempat kita khawatir karena berdampak dan menjadi penghambat, tetapi kita melihat kondisi mereka smooth maka perekonomian kita juga meningkat.

Salah satu program Bank Indonesia yang dicanangkan sejak 14 Agustus 2014 adalah Gerakan Nasional Non Tunai (GNNT) yaitu penggunaan instrumen non tunai saat bertransaksi dalam kegiatan ekonominya. Menurut bapak sudah siapkah Indonesia umumnya dan Banten khususnya menuju masyarakat non tunai?

Perlu dipahami bahwa kondisi Indonesia ini cukup ketinggalan dibandingkan negara lain disekitaran Indonesia terutama di Negara – negara ASEAN dalam penggunaan non tunai, jadi hampir 99% kita masih menggunakan transaksi tunai. GNNT ini merupakan salah satu pemikiran bagaimana kita mencoba untuk menggeser meski tidak mungkin kita merubah seluruhnya, di negara yang maju sekalipun tunai masih tetap dilakukan dan kita tidak dapat menggeser itu. Maka dari itu kita akan lakukan kampanye besar-besaran yang juga sama seperti yang pernah disampaikan Presiden untuk mengawali dan memimpin hal tersebut. Lalu kita menindaklanjuti secara perlahan-lahan namun pasti, Karena gerakan ini telah didukung sepenuhnya oleh pemerintah.

Sebagai contoh, untuk Bansos Nasional itu ada bantuan pangan non tunai jadi sekarang masyarakat yang berhak menerima bantuan pangan yang sebelumnya diberikan Bantuan Langsung Tunai (BLT) maka saat ini sudah menjadi Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) melalui perbankan.

Kemudian di berbagai daerah pula sudah menerapkan E-samsat termasuk Banten yang juga sudah launching saat bulan puasa kemarin. Tujuannya untuk mendongkrak atau menggeser masyarakat yang tadinya masih menggunakan sistem tunai menjadi non tunai dengan sistem perbankan. Selanjutnya sebagian besar saat ini pembayaran SPP sudah menggunakan sistem transfer walau masih ada sebagian yang menggunakan tunai, kemudian pembayaran gaji saat ini sudah jarang yang menggunakan sistem tunai, ada yang sudah menggunakan sistem transfer atau non tunai.

Dan untuk di Provinsi Banten selain yang tadi bersifat nasional, ini ada instruksi dari bapak Gubernur untuk penyaluran Bansos yang dikelola Provinsi Banten juga disampaikan secara non tunai. Permasalahan ini kita sedang intensif bahas dengan bapak Asda I dan dengan Ibu Kadisos dan perbankan untuk bisa segera merealisasikan penyaluran Bansos di Provinsi Banten secara non tunai.

Selain itu juga kita infokan kepada masyarakat luas, seperti di Kampus – kampus ketika para mahasiswa bila jajan di kantin itu ya di koperasi dan diupayakan dengan menggunakan non tunai. Kita ketahui juga bahwa non tunai itu memiliki banyak keunggulannya, diantaranya kembaliannya menjadi pas tidak ada nilai pembulatan dan uang tidak akan bisa dipalsukan.

Sementara itu dalam waktu dekat atau dalam 3 bulan ini pembayaran tol akan diterapkan sistem non tunai dan dengan target hingga Oktober 2017 mendatang. Selain menghimbau kepada masyarakat, ada juga sifatnya bebentuk memaksa, dikarenakan memang diketahui bersama bahwa non tunai lebih efisien dan aman dari pada tunai.

Apa saja program unggulan yang sedang dilancarkan kepada masyarakat? Seperti adanya sosialisasi BI kepada masyarakat khususnya di Banten?

Setelah tadi Bank Indonesia dari sisi moneter kemudian Bank Indonesia memiliki fungsi di sistem pembayaran dan pengedaran uang rupiah. Jadi kita juga mensosialisasikan khususnya ditahun ini kita cukup masif mensosialisasikan ciri-ciri keaslian uang rupiah khususnya emisi tahun 2016 yang terdapat 11 pecahan uang baru. Kita juga sudah sosialiasikan secara masif kepada tokoh agama, pemuka masyarakat, kepada mahasiswa dan kepada masyarakat umum untuk mensosialisasikan keaslian ciri-ciri uang Indonesia khususnya untuk emisi tahun 2016 mulai dari kertas hingga logam yang semuanya itu sudah baru.

Selanjutnya Bank Indonesia juga melakukan sosialisasi mengenai ketentuan Bilyet Giro, karena sebelumnya sangat banyak celah-celah untuk disalah gunakan, lalu dengan ketentuan yang baru akanlebih diperkuat keamanannya dan itu juga kita sosialisasikan kepada perbankan dan juga nasabah bank Karena pengguna Bilyet Giro itu kebanyakan nasabah dari Bank.

Dan kemudian kita juga sosialisasi tentang GNNT, Pelayanan Keuangan Digital dan Uang Elektronik yang selalu kita lakukan disetiap kesempatan.

Kemudian kemarin kita sampai mengadakan Pers Conference bersama Kepolisian mengenai penanganan Money Changer yang tidak berizin, jadi di Provinsi Banten ini adalah daerah yang memiliki Money Changer terbanyak setelah Bali, Batam, dan Medan.

Kita lakukan penertiban terhadap yang ilegal yaitu yang tidak mendapatkan izin dari Bank Indonesia untuk beroperasi sebagai Money Changer itu harus mendapatkan izin terlebih dahulu dari Bank Indonesia dan kami bekerjasama dengan Polda Banten.

Sesi wawancara eksklusif di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Banten, Jl. Raya Pandeglang, Palima, Kota Serang.

Selama menjabat sebagai Kepala Kantor Perwakilan BI wilayah Banten, pencapaian apa saja yang sudah bapak capai?

Yang bisa menilai pencapaian sebenarnya orang lain ya bukan saya sendiri, tetapi kalau ukuran keberhasilannya Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Banten yang terutama adalah mengenai pencapaian tingkat inflasi. Alhamdulillah, Provinsi Banten di dua tahun terakhir ini selalu mencapai target inflasi sesuai ring yang ditetapkan oleh Nasional, ini merupakan ukuran keberhasilan utama yang dimiliki Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Banten, selain itu hubungan Bank Indonesia dengan stakeholder dalam hal ini adalah pemerintah Provinsi Banten, Alhamdulilah berhubungan sangat baik.

Untuk kerjasama yang lain kita memiliki keunggulan lain yaitu dengan Kabupaten Lebak kita memiliki pengembangan Desa Wisata Sawarna oleh Ibu Bupati di terima dengan baik dan Dinas Pariwisata Provinsi Banten juga dinilai dengan baik.

Selain itu Bank Indonesia mempunyai program-program unggulan inflasi, kita punya cluster pengendalian inflasi. Yaitu cluster inflasi bawang merah, cluster cabai, dan juga cluster padi. Fokus Bank Indonesia dengan cluster tersebut karena seringkali komoditas tersebut memberikan sumbangan inflasi, jadi beras harganya stabil tetapi porsinya terhadap inflasi paling besar dan jika bergejolak maka inflasi akan terganggu, maka Bank Indonesia masuk ke sektor-sektor tersebut. Jadi kita melihat dari sisi inflasi hubungan dengan stakeholder yaitu pemerintah daerah setempat dan kabupaten/kota.

Bagaimana harapan bapak kedepan untuk laju pertumbuhan ekonomi di banten kedepannya?

Kita selalu optimis untuk pertumbuhan ekonomi di Banten akan menjadi lebih baik. Jika dibandingkan untuk targetnya di tahun 2016, Bank Indonesia memperoleh mencapai 5,2 persen dan untuk tahun ini kita berharap bisa di range 5,5 hingga 5,9 persen yang artinya lebih baik. Perbaikan ekonomi ini memang masih didorong oleh konsumsi rumah tangga dan investasi yang tercermin dari optimisme baik ditingkat pelaku usaha dan tingkat konsumen. Kita juga melakukan survei kepada dunia usaha maupun kepada masyarakat. Ada survei kegiatan usaha, ada survei konsumen, sehingga ini merupakan dari optimisme kita dalam melakukan proyeksi dan kita juga optimis pertumbuhan ekonomi Banten akan meningkat di level 5,5 – 5,9 persen dan secara nasional ini sejalan, kemudian nasional juga memiliki ekspetasi pertumbuhan ekonomi yang meningkat. (viko/atp)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here