Penjelasan Menkominfo Terkait Pemblokiran Telegram

Centralnews – NASIONAL, Kementerian Komunikasi dan Informatika memblokir layanan pesan instan Telegram versi website. Menteri Kominfo Rudiantara menegaskan pemblokiran terhadap website Telegram bukan tanpa alasan. Isi atau konten dalam Telegram, kata dia, banyak yang berkaitan dengan radikalisme.

dikutip dari situs liputan6.com “Kami tentunya beserta dengan institusi lain memantau perkembangan konten di dunia maya khususnya yang berkaitan dengan radikalisme dan terorisme, dengan BNPT, kalau yang narkoba dengan BNN,” ujar Rudi dalam acara Silaturahmi Dewan Pers dengan Masyarakat Pers di Aryaduta Hotel Jakarta, Jumat 14 Juli 2017. moncler sale hat

Menurunya, Telegram mengakomodasi konten bermuatan radikalisme seperti membuat bom. Pemerintah khawatir konten seperti ini akan mempengaruhi masyarakat.

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) pada 14 Juli 2017 telah meminta Internet Service Provider (ISP) untuk melakukan pemutusan akses (pemblokiran) terhadap sebelas Domain Name System (DNS) milik Telegram.

Loading...

Melalui keterangan resminya, Kominfo menjelaskan bahwa pemblokiran ini harus dilakukan karena banyak sekali kanal yang ada dilayanan tersebut bermuatan propaganda radikalisme, terorisme, paham kebencian, ajakan atau cara merakit bom, cara melakukan penyerangan, disturbing images, dan lain-lain yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan di Indonesia.

Dirjen Aptika juga menegaskan bahwa dalam menjalankan tugas sebagaimana diamanatkan oleh Pasal 40 UU No. monster beats canada china 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas UU No.11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, Kominfo selalu berkoordinasi dengan lembaga-lembaga Negara dan aparat penegak hukum lainnya dalam menangani pemblokiran konten-konten yang melanggar peraturan perundangan-undangan Indonesia.

Aplikasi Telegram ini juga dapat membahayakan keamanan negara karena tidak menyediakan SOP dalam penanganan kasus terorisme.

Menurut rudi, pihaknya selalu berupaya melakukan komunikasi dengan berbagai platform yang ada di Indonesia, seperti Facebook dan Google. Namun, kata dia, komunikasi yang dilakukan dengan Telegram ini berbeda dengan yang lain.

“Kami senantiasa berupaya berkomunikasi sama dengan platform lainnya, Facebook, Google, karena Youtube dibawah Google, ugg outlet de discount code Whatsapp juga dibawahnya Facebook, Line yang ada di Indonesia, Twitter juga ada di Indonesia, Facebook ada di Singapura, Google ada di Indonesia, bisa dihubungi semua,” papar Rudi.

“Kalau dengan Telegram komunikasinya berbeda, mereka itu harus lewat web. Jadi kami sudah mengupayakan berkomunikasi dengan mereka (Telegram), menyampaikan bahwa ini harus di takedown dan lain sebagainya tapi tidak ada respons apa boleh buat, ini untuk kepentingan kita bersama (jadi diblock),” jelas Rudi. (rifa)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here