Tak Hanya Debus, Kesenian Almadad Juga Harus Kamu Ketahui

Foto : net/kesenian Almadad

Centralnews – PANDEGLANG, Banten memiliki beragam kesenian yang menarik. Selain Debus, Banten juga memiliki Kesenian Almadad. Tentu saja di era globalisasi saat ini sedikit demi sedikit kesenian tradisional itu akan terkikis zaman, akan tetapi berbeda dengan warga Pandeglang ini karena mereka masih menjunjung tinggi Kesenian Almadad tersebut.

Dalam menyiarkan Agama Islam di Banten, Sultan Maulana Hasanudin memakai banyak cara untuk menarik simpatik masyarakat agar masuk Agama Islam salah satunya Kesenian Almadad.

Seperti yang dilansir dari bantenupdate, michael kors eyeglasses espadrille Almadad mirip kesenian debus. Bedanya, almadad menggunakan semacam gansing besar kepalanya terbuat dari kayu dan batangnya dari besi tajam.

Kesenian ini dimulai dengan mengirimkan doa kepada orangtua yang telah meninggal kemudian dilanjutkan dengan atraksi almadad yakni sultan (alat semacam gansing) ditancapkan di bagian tubuh pemain dan dipukul oleh palu besar yang terbuat dari kayu.

Pemainnya terdiri dari 12 orang pemain, 8 untuk bermunajat membacakan salawat kepada Nabi Muhamad SAW dengan diiringin rabana dan 4 orang lainnya bertugas sebagai pemegang palu dan sultan.

Loading...

Kesenian almadad hingga kini tetap dilestarikan salah satunya di Kampung Kalahang, Desa Kadu Dodol, Kecamatan Cimanuk, ugg-outlet-in-florida-mall Pandeglang. Biasanya kesenian akan dijumpai saat acara sakral warga seperti acara pernikahan dan khitanan.

Rahmat (40) salah seorang pengurus kesenian Ala-Madad menuturkan, mulanya kesenian ini dipakai sultan Maulan Hasanudin dan Syekh Maulana Yusuf untuk menyebarkan agama islam di Banten sekitar 350 tahun yang lalu.

“Datang ke banten ini menyiarkan agama islam yang dibawa oleh Sultan Hasanudin dan Syekh Maulana Yusuf sekitar 350 tahun lalu, ini adat yang masih dilestarikan di Desa Kadu Dodol Kecamatan Cimanuk,” papar Rahmat, Sabtu (22/7/2017).

Rahmat percaya, monster beats earbuds fake vs real not jika warga yang hendak melakukan pernikahan atau khitanan tidak menggelar kesenian almadad terlebih dahulu, maka biasanya akan timbul hal-hal aneh diluar akal yang terjadi.

“Jadi misalkan kalau ada yang pernikahan, khitanan harus ada ala-madad ini, kata orangtua dulu ada saja hal-hal yang tidak diinginkan seperti piring pecah, makanan basi, dan kesurupan,” pungkasnya. (viko)

Sumber : bantennews

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here