Tokoh Besar Adat Papua Kunjungi Pemuka Adat Baduy

Foto: Dok.centralnews/Andri

Centralnews – LEBAK, Tokoh Masyarakat Adat terbesar di Papua mengunjungi Pemuka Adat Baduy Dalam di Kampung Cibeo dan Cikawartana Kabupaten Lebak, Banten. Kemarin, atas Kunjungan Tokoh Adat Papua diwakili oleh Matius Murib dari Suku Dani dan Yunus Gobay Suku Mei, Rabu(23/8/2017).

“Saya kira Budaya Masyarakat Baduy yang tinggal di Pedalaman Kabupaten Lebak, Banten itu ada kesamaan dengan adat di Pedalaman Papua. Kesamaan adat masyarakat Baduy itu adanya penggunaan Noken atau Tas Koja juga penggunaan gelang tangan. Produksi Tas Noken dan gelang itu menggunakan bahan baku dari pepohonan,” ucap Matius.

Selain itu, masyarakat Baduy mencintai pelestarian keseimbangan Hutan dan Alam agar tidak terjadi kerusakan. Apabila, kawasan Hutan dan Alam terjadi kerusakan tentu akan menimbulkan malapetaka yang bersifat bencana kesamaan lainnya.

Seperti halnya pedoman masyarakat Adat Baduy melarang perbuatan melakukan kejahatan, pembunuhan, penipuan, perusakan, perjinahan dan perbuatan lainnya yang tidak terpuji.

Loading...

Begitu juga masyarakat Baduy mencintai kedamaian juga menghargai sesama manusia juga tamu dari luar daerah. Selain itu, berpegang teguh pada Tuhan, Pemerintah dan Adat Budaya. “Kesamaan budaya masyarakat Baduy itu tentu menjadikan persaudaraan yang lebih kuat pada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI),” kata Direktur Perhimpunan Advokasi Kebijakan dan Hak Azasi Manusia (PAK-HAM) Papua itu.

Menurut Murib, pada dasarnya masyarakat pedalaman Baduy hingga kini tidak tergoyahkan menghadapi modernisasi dan era globalisasi dibandingkan adat masyarakat pedalaman Papua.

Masyarakat Baduy berpegang teguh terhadap lembaga adat untuk mempertahankan nilai-nilai kearipan budaya lokal.

Warga Baduy berjumlah penduduk 11.699 jiwa menolak berbagai program pembangunan infrastuktur jalan, penerangan listrik, kesehatan hingga pendidikan. Begitu juga masyarakat Baduy masih kuat keyakinan pada agama Sunda Wiwitan yang dianutnya.“ Kami melihat suku Baduy lebih kuat mempertahankan adat budaya leluhur itu,” katanya.

Ia mengatakan saat ini masyarakat adat di Pedalaman Papua sudah terjadi kerusakan dengan adanya berbagai pembangunan yang datangnya dari luar. Selain itu, juga penyebaran keyakinan dari Amerika dan Kanada. Sebetulnya, kata dia, masyarakat adat Papua sebelum lahir agama baru dari luar itu sudah memiliki kepercayaan kepada Tuhan.

“Kami menilai budaya masyarakat adat Papua itu sudah terjadi kerusakan oleh orang-orang dari luar itu,” katanya. Yunus Gobay seorang tokoh Suku Mei di Papua juga mengatakan pihaknya mengapresiasi komunitas masyarakat Baduy yang hingga kini masih mempertahankan adat dari nenek leluhurnya. Bahkan, warga Baduy Dalam hingga kini berpergian dilarang menggunakan angkutan.

Mereka Warga Badui Dalam dengan caranya sendiri yakni berjalan kaki kemanapun berpergian. Apabila, mereka (Warga Badui Dalam) melakukan pelanggaran-pelanggaran akan dikenakan sanksi adat. Penerapan sanksi adat itu juga tidak pandang bulu, termasuk anak Tetua Adat atau Jaro jika melanggar peraturan itu akan dikeluarkan dari Badui Dalam. “Kami berharap budaya masyarakat Baduy itu tetap dilestarikan karena menjadikan khasanah budaya Indonesia,” katanya.

Sementara itu, Tetua Adat Baduy Dalam Kampung Cikawartana Nalim mengatakan menyambut positif kedatangan Tokoh Adat dari Indonesia Timur yakni Papua. Masyarakat Baduy hingga kini tetap berpegang teguh terhadap adat leluhur nenek moyang. Keinginan masyarakat Baduy menolak berbau luar, seperti pembangunan infrastuktur jalan hotmik, penerangan listrik, elektronika dan lainnya. Meskipun saat ini sudah terlihat perubahan,seperti di kawasan Badui saja terdapat gelas yang dibawa para pengunjung.

Selain itu juga masyarakat Baduy diperintahkan menanam pohon. Padahal pepohonan di sini sudah banyak dan melimpah, perubahan zaman digambarkan sebagai pedagang yang menjual aneka jualan, warga Baduy itu lebih baik menahan nafsu dengan tidak membeli dagangan itu. “Kami hingga kini tetap mempertahankan adat leluhur yang harus dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari dan menolak perubahan itu,” bebernya. (andri/ani)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here