Kapolres Waykanan Menyebut Profesi Jurnalis Seperti Kotoran

Centralnews – NASIONAL, Kapolres Waykanan AKBP Budi Asrul Kurniawan ditudung telah menghina profesi wartawan dan mendiskreditkan media cetak. dihadapan dua wartawan, Budi menyamakan profesi jurnalis dengan kotoran hewan.

Kasus itu bermula saat Dedi Tarnando (Anggota IJTI Lampung) dan Dian Firasa (Wartawan On Line) tengah menjalankan tugas peliputan aksi penyetopan angkutan batu bara oleh masyarakat yang tergabung dalam posko mawar di simpang 4 Blambangan Umpu, Waykanan, Minggu (27/8) dini hari.

Kapolres Waykanan AKBP Budi Asrul Kurniawan beraksi kelewat batas terhadap wartawan. Ketika jurnalis hendak mengabadikan sebuah cekcok yang nyaris berujung chaos, dia malah melarang sang pewarta untuk mengabadikan peristiwa tersebut.

Perwira menengah itu bahkan menghina profesi wartawan dan mendiskreditkan media cetak di Lampung. Di hadapan dua wartawan, Budi menyamakan profesi jurnalis dengan kotoran hewan.

Loading...

Bukan itu saja, dia juga menyatakan koran di Lampung tidak ada yang membaca. Penghinaan tersebut dia lontarkan saat penertiban massa pro dan kontra batu bara yang hampir terlibat chaos di Kampung Negeribaru, Blambanganumpu, Waykanan, sekitar pukul 02.30 WIB kemarin (27/8).

Kronologis Kejadian

Dedi Tarnando (Anggota IJTI Lampung) dan Dian Firasa (Wartawan On Line) tengah menjalankan tugas peliputan aksi penyetopan angkutan Batubara oleh masyarakat yang tergabung dalam posko mawar di simpang 4 Blambangan Umpu, Way Kanan, Minggu (27/8/2017) dini hari.

Warga Kemudian hendak Menggiring Mobil ke polres Way Kanan dan hendak membuat  Pengaduan terkait kendaraan batubara yang memuat angkutan melebihi batas maksimum kendaraan yang merusak jalan.

Singkat cerita sekitar pukul 03.00 pagi Kapolres Way Kanan AKBP Budi Asrul Kurniawan tiba di lokasi dan menemui warga dan sopir angkutan batubar.

Saat itu Kapolres hendak memberikan arahan kepada massa yang mencegah lajunya kendaraan angkutan batubara sesuai hasil kesepakatan larangan melintas yang telah disepakati sebelumnya. Dimana, sebelum arahan lanjut Dian, kapolres mengecek adakah wartawan dilokasi (Pos Mawar) dan keduanya (Dian dan Dedy) dilarang merekam dan mengelurkan kamera. Bahkan Kapolres sempat memerintahkan Anggota untuk menggeledah wartawan, namun ditolak dedi.

Setelah selesai memberikan arahan kepada massa. Dedy dan Dian mendengar dan melihat langsung bahwa Kapolres dihadapan kerumunan massa mengatakan bahwa wartawan taik kucing, guwa tidak takut.

Namun, tidak disangka-sangka, kata Dian, setelah ia dan dedy langsung mencoba mengklarifikasi pernyataanya. Bukannya perkataan maaf yang diterima malah lontaran pelecehan profesi Wartawan semakin jadi.

Bahkan Kapolres mengatakan siapa sih yang mau baca Koran sekarang ini apa lagi Koran-koran lampung cacingan seperti itu. Sekarang ini orang sudah baca online. Lu bangun tidur bacanya apa? WhatsApp kan. Mana bacakoran lagi sekarang dah tutup semua Koran itu. Nonton TV juga banyak yang nonton ? TV berita juga jarang ditonton, mending nonton bokep dari pada nonton berita TV”.

Bahkan sekali lagi kapolres dalam rekamannya menantang wartawan silahkan tulis apapun tentang dia, dia gak takut.

Minggu siang Dedi Sebagai anggota IJTI akan melaporkan kejadian tersebut. (rifa)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here