Kekejaman Myanmar Terhadap Kaum Minoritas dan Peran RI Bangun Rumah Sakit Bantu Muslim Rohingya

Centralnews – NASIONAL, Kekerasan yang menimpa muslim Rohingya di Negara Bagian Rakhine, Myanmar, terus berlanjut. Militer Myanmar menghanguskan desa-desa dan membunuhi warga Rohingya, termasuk wanita atau bayi sekalipun.

Pembantaian warga etnis Rohingya oleh militer Myanmar, kembali pecah dan menimbulkan banyak korban jiwa, termasuk ribuan yang mengungsi ke negara tetangga, Bangladesh.

Kekerasan marak dan berlanjut hingga Sabtu (26/08) setelah para pejuang Rohingya menyerang sekitar 30 kantor polisi pada Jumat sehari sebelumnya.

Penduduk sipil Muslim Rohingnya mengungsi dengan melintasi perbatasan ke Bangladesh namun penjaga perbatasan mengusir sebagian dari mereka kembali ke wilayah Myanmar.

Loading...

Umat Muslim Rohingya tidak diakui sebagai warga negara di Myanmar -yang mayoritas penduduknya beragama Budha- dan sering menjadi korban kekerasan aparat keamanan maupun kelompok militan Budha.

Sebelum kekerasan terbaru ini, puluhan ribu warga Rohingya sudah mengungsi ke Bangladesh karena mengaku menjadi korban penganiayaan.

Rakhine -yang merupakan negara bagian termiskin di Myanmar- menjadi tempat tinggal dari lebih dari satu juta orang Rohingya yang beragama Islam.

Kepolisian Bangladesh mengatakan mengusir 70 orang kembali ke Myanmar pada Sabtu (28/08) setelah berupaya memasuki Bangladesh lewat perbatasan Ghumdhum.

Seorang warga, Mohammad Zafar -yang berusia 70 tahun- yang berada di kamp pengungsi di Balukhali menjelaskan kepada kantor berita AFP bahwa dua anknya ditembak mati di lapangan terbuka.

“Mereka menembak begitu dekat sehingga saya tak bisa mendengar apapun sekarang.”

Sementara itu, sekitar 4.000 penduduk Rakhine yang bukan beragama Islam sudah dievakuasi oleh tentara Myanmar agar tidak terperangkap dalam kekerasan.

Nama Rohingya kembali muncul beberapa bulan belakangan di media seluruh dunia. Seperti tahun-tahun sebelumnya, berita soal Rohingya melulu tentang penderitaan, penyiksaan, dan pembunuhan.

Hidup terombang-ambing, dianiaya di Myanmar kabur ke Bangladesh. Di Bangladesh, mereka kembali diusir ke Myanmar.

Di Myanmar mereka tidak diakui negara walau telah tinggal beberapa generasi di negara itu, berujung pada diskriminasi, penganiayaan lagi, dan begitu seterusnya, lingkaran setan.

Sebelumnya Pemimpin Myanmar Aung San Suu Kyi berjanji untuk lebih menegakkan hak asasi manusia di negaranya dalam masalah Muslim Rohingya di Rakhine. Janji tersebut dikatakan di sidang umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ke-71 di New York, Amerika Serikat dalam kesempatan pertamanya berpidato sebagai kepala negara.

Kritik tajam diterimanya belakangan lantaran terkesan cuek dan hanya diam seribu bahasa terhadap pencederaan hak asasi manusia Muslim Rohingya. Publik menilai apa yang dilakukan Suu Kyi terhadap mereka belum berdampak besar, mengingat sosoknya seorang penerima Nobel Perdamaian.

Aung San Suu Kyi yang awalnya dipandang sebagai harapan baru setelah memimpin Myanmar juga tidak kunjung membela Rohingya. Nasib warga minoritas Muslim ini tetap seperti yang dilabeli oleh PBB “etnis paling tersiksa di dunia.”

Menteri Luar Negeri RI, Retno LP Marsudi, siang ini menghadap Presiden Joko Widodo untuk melaporkan perkembangan tragedi kemanusiaan yang terjadi di Negara Bagian Rakhine tersebut, sekaligus upaya yang akan ditempuh Indonesia.

Dikutip dari situs Kumparan Retno menyampaikan bahwa upaya itu ditempuh Indonesia dengan membangun rumah sakit besar di Rakhine State. Indonesia juga akan mengirimkan obat-obatan membantu para pengungsi Rohingya.

“Teman-teman tahu bahwa kita sudah punya 6 sekolah di Rakhine State, kita juga membantu dari segi bahan makanan, obat-obatan. Kita akan kirim segera dan kita sekarang akan mulai membangun rumah sakit yang cukup besar di Rakhine State,” kata Retno LP Marsudi di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (30/8).

Retno mengatakan upaya yang bisa ditempuh untuk menghentikan krisis kemanusiaan itu bisa dicapai dengan peran banyak pihak, belum bisa mediasi antara pengungsi Rohingya dan Pemerintah Myanmar.

“Ini menjadi modal yang sangat besar pada kita, jadi kita berkomunikasi dengan baik dengan Pemerintah Myanmar dengan NGO yang ada, kita berkomunikasi baik dengan Bangladesh dan dengan komunikasi yang baik ini semua pihak ini kita bisa menjembatani,” ucap Retno.

Hal itu sebetulnya sudah dilakukan Indonesia lakukan pada tahun yang lalu, sejak Oktober pada saat penyerangan. Dan peran ini Indonesia lakukan kembali sampai saat ini. (rifa)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here