Novel Baswedan Angkat Bicara Soal Laporan Dirdik KPK Kepadanya

Centralnews  –  JAKARTA , Direktur Penyidikan (Dirdik) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Brigjen Aris Budiman melaporkan penyidiknya, Novel Baswedan, ke Polda Metro Jaya. Laporan tersebut terkait kasus dugaan pencemaran nama baik.

Kasus yang dilaporkan Aris adalah pencemaran nama baik melalui surat elektronik atau e-mail yang dikirimkan Novel pada 14 Februari lalu. Laporan Aris berkaitan dengan UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang ITE. Hal ini ia ungkapkan di muka Pansus Hak Angket pada Selasa (29/8).

Aris sendiri sudah diperiksa oleh Polda Metro Jaya pada Kamis (31/8). Selanjutnya polisi sedang mempertimbangkan akan memeriksa Novel juga.

Penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan angkat bicara soal Direktur Penyidikan KPK Brigjen Aris Budiman yang menyebutnya berwatak keras dan punya pengaruh di KPK.

Loading...

Dikutip dari situs Kompas Novel mengatakan, dirinya bukan bertindak tanpa alasan. Perlawanan yang dia lakukan semata-mata agar penegakan hukum kasus korupsi berjalan secara optimal.

“Saya tentunya akan tidak sejalan apabila ada hal yang tidak baik. Kalau ada hal yang berjalan baik, apa kepentingan saya untuk melawan?” kata Novel dalam wawancara eksklusif dengan Aiman di Kompas TV, Senin (4/9/2017) malam.

Novel mengatakan, dirinya mengikuti sekilas pembicaraan Aris dengan anggota pansus hak angket KPK di DPR beberapa waktu lalu. Ia menilai, ada inkonsistensi dalam penyampaian Aris mengenai sutuasi di tubuh KPK.

“Di satu sisi dia akui proses di KPK tidak ada masalah rekayasa, tidak profesional, malah dibilang bagus. Tapi di satu sisi ada penyidik yang powerful,” kata Novel.

Novel juga menampik ucapan Aris yang menyebut penyidik Polri lebih berintegritas daripada penyidik internal.

“Saya kira tidak demikian. Itu klaim yang tidak tepat,” kata Novel.

Penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan menyatakan ada kasus yang tidak diproses oleh Direktur Penyidikan Brigjen (Pol) Arus Budiman. Kasus tersebut, kata Novel, melibatkan anggota kepolisian.

Pertama, penyelidikan kasus suap Sekretaris Mahkamah Agung saat itu Nurhadi Abdurahman. Hingga lebih dari satu tahun, penyelidikan KPK terhadap kasus yang melibatkan mantan Sekretaris MA, Nurhadi Abdurahman, tidak juga berlanjut ke tahap penyidikan.

Selama itu pula KPK tidak juga memeriksa tiga anggota Polri yang menjadi ajudan Nurhadi. Mereka adalah Brigadir Ari Kuswanto, Brigadir Dwianto Budiawan, Brigadir Fauzi Hadi Nugroho, dan Ipda Andi Yulianto.

Diduga, mereka mengetahui keterlibatan Nurhadi dalam kasus suap yang melibatkan panitera Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

Saat itu, keempatnya tidak dapat memenuhi panggilan KPK karena dipindahtugaskan ke Poso dan bergabung dengan Satgas Tinombala yang memburu kelompok teroris. Pemindahan tugas tersebut sejak akhir Mei 2016.

Saat dikonfirmasi terkait pemeriksaan keempat anggota Polri itu, pimpinan KPK selalu beralasan bahwa pemeriksaan menunggu waktu yang tepat.

Kedua, kasus korupsi Bupati nonaktif Banyuasin Yan Anton Ferdian. Pada Desember 2016, KPK pernah menjadwalkan pemeriksaan terhadap delapan orang pejabat Kepolisian.

Pemeriksaan tersebut terkait kasus dugaan suap dalam proses perencanaan, penganggaran dan pelaksanaan proyek pengadaan barang dan jasa Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuasin. Namun, kedelapan polisi yang bertugas di Sumatera Selatan itu tidak juga memenuhi pemanggilan KPK.

Menurut pemberitaan beberapa media, dalam persidangan terhadap Bupati Banyuasin Yan Anton Ferdian, sejumlah saksi mengakui ada pemberian uang kepada pejabat kepolisian.

Novel menyebut, sudah jadi rahasia umum bahwa KPK tidak akan menyentuh perkara dimana didalamnya ada anggota Polri terlibat.

“Jadi pembicaraan di internal KPK, ketika berhubungan Polri, tidak diproses. Padahal bisa saja KPK kerja sama dengan polri untuj ditangani bersama ketika ada oknum polisi,” kata Novel.

Karena itulah Novel menentang pengangkatan penyidik Polri untuk posisi Kepala Satuan Tugas. Ia memprotes Aris melalui email. Dalam email tersebut Novel menyebut Aris tak memiliki integritas. Novel juga menyebut Aris sebagai Direktur Penyidikan terburuk sepanjang masa. (rifa)

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here