Perbedaan Harga Heras Menjadikan Petani Lebih Memilih Jual Ke Tengkulak

Centralnews – Serang. Dengan luas lahan persawahan mencapai 3.000 hektare (ha), menjadikan Kasemen sebagai kawasan persawahan terluas di banding Kecamatan lain di Kota Serang. Kawasan terluas selanjutnya berada di Sawah Luhur dengan luas 1.800 ha yang terdiri dari 900 ha lahan pesawahan, 515 ha lahan tambak ikan dan udang, serta lahan kosong dan pemukiman penduduk.

Sayang, kondisi tersebut tidak diimbangi banyaknya jumlah petani penggarap sawah atau buruh tani. Sekelumit persoalan menimpa bidang pertanian, diantaranya tengkulak lahan yang sudah mulai tergerus dan persoalan lainnya.

Dikatakan Nyi Arsimah, petani asal Desa Sawah luhur, dirinya mengungkapkan meskipun sebagai daerah dengan areal persawahan terbesar namun nyatanya sawah yang ada bukan milik penduduk asli melainkan tanah garapan.

“Masyarakat hanya menggarap saja, tanahnya milik orang Kota,” ungkapnya dengan raut muka penuh kesedihan saat ditemui di Sawah Luhur, Kamis 11/01/2017.

Lanjutnya, dengan sistem bagi hasil dirinya merasa rugi karena harus menanggung semua biaya dari mulai biaya pupuk, pemeliharaan dan lainnya.

“Dengan penghasilan seperti itu, kadang tidak pernah mencukupi untuk memenuhi kebutuhan dapur,” ungkapnya memancarkan kegundahan dari kedua matanya.

Bekerja di bawah terik matahari dan berada di atas tanah berlumpur serta sekelumit permasalahan yang setiap saat siap membebani pundaknya tak membuat Arsimah patah semangat. Bersama rekan seprofesi, Arsimah terus menggarap sawah agar dapur tetap ngebul.

Sementara petani lain Badrudin, menyesalkan masih banyaknya tengkulak yang mencengkik. “Kita terpaksa minjem sebagai modal awal ke tengkulak,” singkatnya.

Selain terpaksa, dirinya menjual ke petani juga karena harga jual lebih tinggi daripada harga yang ditetapkan bulog.

“Menjual ke tengkulak bisa menutupi modal awal dan biaya produksi. Cukup untuk bekal sehari-hari,” ungkapnya.

Kepala Dinas Pertanian Kota Serang Anis S Salam, mengatakan, pihaknya memaklumi dan memahami permasalahan yang terjadi dimana para petani lebih senang menjualnya ke tengkulak. Karena memang diakuinya, harga dari tengkulak lebih mahal dari harga yang ditetapkan bulog.

“Sudah menjadi hukum pasar jika petani memilih menjual gabahnya kepada tengkulak daripada ke Bulog. Kan, harganya lebih mahal,” katanya.

Dikatakan Anis, berdasarkan harga pembelian pemerintah harga gabah kering petani (GKP) Rp 3.700 per kilogram, sementara dari para tengkulak sebesar Rp 4.800. “Ini terlalu murah, dan Bulog kalah bersaing dengan tengkulak,” ucapnya.

Meskipun masih banyak permasalahan, Anis tetap akan tetap menjadikan sawah luhur sebagai lumbung pangan di Kota Serang.

“Agar lahan itu tetap terjaga kita akan mengunci Sawah Luhur menjadi wilayah pertanian khususnya tanaman padi,” tuturnya. (Oki/Yan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here