Museum Multatuli, Mengenang Sejarah Orde Lama Edward Dowes Dekker

Museum Multatuli, Mengenang Sejarah Orde Lama Edward Dowes Dekker

Centralnews – Lebak,Selasa (11/09/18),Museum Multatuli, Mengenang Sejarah Orde Lama Edward Dowes Dekker . Museum Multatuli yang berada di Kabupaten Lebak, Provinsi Banten tepatnya di Alun-Alun Timur No. 8 Rangkasbitung merupakan sebuah museum anti kolonialisme pertama di Indonesia. Museum yang mengenang tokoh Belanda penolak kolonialisme tersebut menampilkan sejarah kolonialisme dan antikolonialisme dari berbagai sisi.

Museum Multatuli berdiri di bangunan bekas Kewedanaan, Lebak, Banten. Bangunannya sangat mudah ditemui jika Anda berkunjung ke Kota Rangkasbitung, di sisi kanan Kantor Bupati, dan berdampingan dengan Perpustakaan Saidjah dan Adinda, perpustakaan daerah terbesar di Banten.

Dalam museum dengan luas 1.842 meter persegi ini, terdapat banyak barang bersejarah milik Edward Dowes Dekker, pemilik nama asli Multatuli. Koleksi seperti novel Max Havelaar edisi pertama yang masih berbahasa Perancis (1876), tegel bekas rumah Multatuli, litografi/lukisan wajah Multatuli, peta lama Lebak, arsip-arsip Multatuli, dan buku-buku lainnya.

Yang menarik ialah terdapat bukti fisik, surat-menyurat Multatuli dengan pejabat Hindia Belanda tentang kondisi masyarakat Lebak, foto-foto, serta novel Max Havelaar terbitan pertama. Alun-alun Rangkasbitung yang dikelilingi gedung pemerintahan juga masjid agung, penjara, serta rumah dan perpustakaan untuk menghormati Multatuli.

Pemerintah Kabupaten Lebak, melalui Bupatinya Iti Octavia Jayabaya, memang sudah lama menjalin kerjasama dengan Perhimpunan Multatuli (Multatuli Genootschap) di Belanda. Hal ini untuk menduplikasi sejumlah dokumen terkait Eduard Douwes Dekker.

Museum Multatuli, Mengenang Sejarah Orde Lama Edward Dowes Dekker

Museum Multatuli memiliki tujuh ruangan yang terbagi menjadi empat tema. Keempat tema tersebut yaitu sejarah datangnya kolonialisme ke Indonesia, Multatuli dan karyanya, sejarah Lebak dan Banten, serta perkembangan Rangkasbitung masa kini.

Kepala Seksi Cagar Budaya dan Museum, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Kabupaten Lebak, Ubaidillah Muchtar, mengatakan konten konten di museum dibuat secara interaktif dan informatif, seperti ruangan audiovisual, serta labirin.
Pada bagian luar museum terdapat monumen interaktif Multatuli, Saidjah, dan Adinda.

“Konten-konten di museum ini dibuat secara interaktif dan informatif yang enak dipandang dan dirasakan,” kata Ubaidillah Muchtar

Berbagai aktivitas yang bisa dilakukan pengunjung, ialah dapat menikmati ruang audiovisual serta labirin yang sangat informatif. Melihat dan mendengarkan sejarah dengan peralatan modern, mulai dari layar LCD serta alat pedengar atau headset.

Museum Multatuli menyediakan berbagai informasi yang luas, seperti sejarah, pengetahuan, artefak, buku-buku, foto, podcast, infografis, multimedia, dan gambar.(Oki/Ryd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here