Hanya Dengan Tempat Dan Alat Seadanya, Pemuda Lebak Mampu Produksi Gitar Dengan Harga Jutaan Rupiah

Hanya Dengan Tempat Dan Alat Seadanya, Pemuda Lebak Mampu Produksi Gitar Dengan Harga Jutaan Rupiah
Ujang Iwan (37) warga Desa Lebak Parahiang, berhasil menjadi perajin gitar yang berkualitas dengan harga jual jutaan rupiah. (Foto: Kompas.com)

Centralnews – Lebak, Ujang Iwan (37) warga Desa Lebak Parahiang, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak. Seorang pemuda yang berhasil menjadi perajin gitar yang berkualitas tinggi dengan harga jual jutaan rupiah.

Rumah berbilik warna hijau, tampak sepi. Dari luar tidak terlihat ada yang spesial, sama seperti rumah-rumah lainnya. Namun siapa sangka dari rumah ini tercipta gitar berkualitas, Gitar Gore namanya. Untuk di seputaran Kabupaten Lebak, merek gitar ini sudah cukup populer, setidaknya di kalangan komunitas musik lokal.

Ujang Iwan, perajin sekaligus pemilik merek Gitar Gore yang mulai dirintis sejak tahun 2016. Hanya dengan sepetak dapur rumah kontrakannya, ia mampu menuangkan kreatifitas menarik tersebut, berupa Gitar Gore yang dapat menghasilkan pundi-pundi rupiah.  

“Karena modalnya sedikit saya belum mampu untuk menyewa tempat lebih bagus di kota, kebetulan ada rumah dikontrakkan di Leuwidamar sini, ya sudah mulai produksi di sini saja,” kata Ujang saat disambangi Kompas.com yang dilansir Centralnews.co.id, Rabu (9/1/2018).

Bukan hanya tempat yang sederhana, peralatan yang digunakan untuk membuat gitar juga apa adanya, mulai dari palu dan kapak bekas orangtuanya, hingga mesin serut kayu yang didapat dari lapak loak. “Tidak ada peralatan modern, yang ada saja sepeti palu dan kapak, mangkanya namanya Gitar Gore, karena cara pengerjaannya keras dan tidak biasa,” ujarnya.

Ujang mengaku, ilmu membuat gitar pasalnya ia dapatkan lantaran pernah bekerja di pabrik gitar selama lebih dari 10 tahun. Melihat adanya peluang untuk menjadi perajin, Ujang pun memutuskan mengundurkan diri dan mencoba membuat gitar pertamanya pada 2013 silam.

“Gitar elektrik pertama yang saya buat ditawar oleh seorang teman seharga 4 juta, dari sana saya putar otak gimana caranya jadi perajin gitar dan akhirnya terwujud pada 2016,” ujar dia.

Dalam pembuatannya, ujang dibantu oleh dua pekerja lain. Dalam sehari Ujang dan rekannya mampu memproduksi sekitar 15 gitar, baik elektrik maupun akustik dalam satu bulan.

Selain itu, Gitar Gore Ujang juga berhasil dijual hingga ke luar Pulau Jawa. Hampir dua tahun menjadi perajin, Ujang mengatakan setidaknya paling sedikit sudah ada 100 Gitar Gore yang dijual ke pasaran. Paling banyak justru datang dari luar kota hingga luar Pulau Jawa. “Sudah banyak pesanan dari Makassar, Kalimantan dan di Sumatera, kalau di Jawa sekitar Jakarta dan Bandung saja,” ujar dia.

Ujang menjual gitarnya sejauh ini hanya lewat media sosial saja dengan sistem preorder, atau terkadang juga lewat pameran-pameran yang dia ikuti.

Sementara untuk harga jualnya dipatok bervariasi, mulai dari 250.000 hingga Rp 1 juta untuk gitar akustik, dan Rp 2 juta hingga Rp 5 juta untuk gitar elektrik. “Dalam satu bulan bisa menjual sekitar 10 gitar dengan pemasukan kotor 10-20 juta rupiah,” pungkas dia. (Shofi)


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here