Tak Percaya Lembaga Survei, Prabowo Harus Belajar dari 2014

Tak Percaya Lembaga Survei, Prabowo Harus Belajar dari 2014
Tak Percaya Lembaga Survei, Prabowo Harus Belajar dari 2014


Centralnews- Jakarta, Anggota Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf, Eva Kusuma Sundari, menyarankan capres nomor urut 02 Prabowo Subianto untuk tidak terlalu percaya dengan timnya yang mengklaim elektabilitasnya terus meningkat bahkan sudah melampaui Jokowi-Ma’ruf.

Pernyataan Eva ini disampaikan menanggapi sesumbar Prabowo yang menyatakan tidak lagi percaya lembaga survei, karena dia selalu disambut meriah oleh masyarakat di setiap kunjungannya ke daerah.

“PS (Prabowo Subianto) harus hati-hati terhadap bisikan internal asal bapak senang. Justru harus marah jika hasil riset internal yang anomali dari kebanyakan riset terbuka disajikan ke publik, sehingga terjaga akuntabilitasnya. Belajarlah dari pemilu 2014, yang sudah digugat hingga MK,” kata Eva di Jakarta hari ini, Kamis (13/03/19).

Usai menjalani kampanyenya di Pekanbaru, Riau, yang disambut meriah oleh ribuan warga kemarin, Prabowo mengatakan tidak percaya hasil survei sejumlah lembaga yang menjatuhkan elektabilitas Prabowo-Sandiaga karena mereka dibayar. Prabowo mengatakan, tim internal Prabowo-Sandi memiliki lembaga survei sendiri, namun hasilnya belum diumumkan, karena dikhawatirkan membuat timnya lengah.

Menurut Eva, Prabowo yang sering disambut meriah warga namun elektabilitasnya selalu stagnan dalam setiap survei, menandakan jumlah pendukung Prabowo masih sangat kecil secara populasi.

“Gampang jelasinnya, pertama jumlah yang ada tidak representative, bukan sample riset yang dipilih dengan metode ilmiah dari populasi. Bukan proxy dari pemilih keseluruhan,” ujarnya.

“Atau bisa saja dimobilisasi kedatangannya, pakai duit alias upahan. Jadi enggak masuk kualifikasi, malah belum tentu milih PS,” tegas Eva lagi.

Artinya, kata dia, jika Sandi dan Prabowo serentak ke daerah sekali setiap hari, itu sama dengan 250 kunjungan dalam 250 hari. Sedangkan 250 hari itu total dari delapan bulan lebih dan kampanye baru berlangsung 4-5 bulan. Dari sisi jumlah, jika dikalikan 50 ribu massa dengan 500 kali hasilnya adalah 25 juta orang. Sementara, kata Denny, total pemilih Indonesia adalah 190 juta. Alhasil, total 25 juta massa itu hanyalah 14 persen dari total pemilih.

Founder Lingkaran Survei Indonesia (LSI), Denny JA, juga ikut menanggapi pernyataan Prabowo yang mempercayai lembaga survei ini. Menurut Denny, jika massa yang berkumpul dalam kunjungan Prabowo atau Sandi katakanlah 50 ribu orang dan sudah terjadi 500 kali kunjungan ke daerah. “Itu mungkin dilebih-lebihkan,” selorohnya.

“Dalam riset di delapan lembaga survei mainstream bahkan perolehan Prabowo lebih besar dari 14 persen, yaitu 30-35 persen. Tapi masih kalah dibandingkan Jokowi yang memperoleh 53-58 persen. Dari sisi matematika elementer itu sudah terjawab,” tegasnya.

Sementara itu, pengamat politik dari The Habibie Center mengatakan, hasil survei harus dilihat sebagai cermin diri bagi para aktor politik. Melalui hasil survei dapat terlihat dinamika persepsi dan opini publik terhadap kondisi politik saat ini, termasuk elektabilitas partai dan kandidat.

“Jika paslon 02 tidak trust terhadap hasil survei dan mengklaim memiliki hasil survei internal dengan hasil berkebalikan, itu sah saja. Akan tetapi publik tentu penasaran mengapa hasil survei internal itu tidak disampaikan saja, bila memang hasil survei tersebut lebih akurat dari hasil-hasil survei telah dirilis selama ini,” jelasnya. (Yandi/Red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here