Jelang Hari Pencoblosan, KPU Pandeglang Gelar Simulasi

Bupati Pandeglang saat melakukan simulasi pemungutan suara, di Kecamatan Saketi Pandeglang Minggu (31/03/19)

Centralnews- Pandeglang, Menjelang Pemilihan Umum (Pemilu) Serentak 2019 pada pertengahan April mendatang, Komisi Pemilihan Umum (KPU) Pandeglang menggelar simulasi pemungutan suara dan penghitungan suara Pemilu 2019 di Kecamatan Saketi, Kab. Pandeglang.

Dalam kesempatan tersebut, Ketua KPU Pandeglang Ahmad Suja’i mengatakan, simulasi dilakukan oleh seluruh KPU Kabupaten Kota se-Indonesia, untuk memperkirakan lamanya waktu yang dibutuhkan dalam pelaksanaan Pemilu 2019 mendatang.

“Kami ingin melihat pada tahap mana yang harus mendapatkan perhatian serius agar pelaksanaan Pemilu nanti tepat waktu, efisien dan efektif. Karena, pada pelaksanaan pemilu nanti tidak jauh beda dengan pelaksanaan hari ini,” bebernya, Minggu (31/03/19).

Pascadilakukan simulasi, lanjut Suja’i, maka akan diketahui berapa lama waktu yang dibutuhkan petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) untuk melaksanakan pemungutan dan penghitungan suara, mengingat pemilu serentak baru kali ini dilaksanakan.

“Di Tempat Pemungutan Suara (TPS), saat dimulai acara ada pengucapan janji dulu, dilanjutkan pembukaan kotak suara, menerima formulir C6, dan pemilih harus mengisi daftar hadir,” ungkapnya.

Loading...

Ia menuturkan, simulasi ini memberikan gambaran di titik mana yang harus mendapatkan perhatian khusus. Menurutnya, tiga titik yang membutuhkan waktu lama yaitu pada petugas keamanan, pengisian formulir, dan memasukan surat suara ke dalam kotak. 

“Sebelum masuk ke TPS masyarakat akan diperiksa dulu oleh petugas keamanan. Pada pengisian formulir terhitung lama karena harus mencatat biodata, dan usai pencoblosan biasanya kebingungan memasukan surat suara karena ada lima surat suara,” jelasnya.

Sementara itu, Bupati Pandeglang Irna Narulita menambahkan, pelaksanaan simulasi ini sangat penting dilaksanakan, karena anggota KPPS dan PPK berubah-ubah setiap penyelenggaraan pesta demokrasi.

“Petugas KPPS merupakan ujung tombak lancarnya demokrasi, jangan sampai tidak tahu tugas pokok yang harus dilakukan sehingga meminimalisir kesalahan pada pelaksanaan,” katanya.

Ia menilai, simulasi ini menjawab kekhawatiran masyarakat yang belum paham tata cara yang harus dilakukan pada saat 17 April mendatang. 

“Sekarang surat suara saja ada lima, saat pencoblosan juga sangat banyak calonnya, jadi ini harus dipikirkan. Karena dari KPU tidak memungkinkan, seyogyanya dapat dibantu oleh DPMPD, Kecamatan dan Desa. Harapan kami pemilu nanti berjalan baik, tidak ada yang mencederai jalannya demokrasi. Dengan hadirnya KPPS disini, dapat menyampaikan kembali atau transfer knowledge kepada masyarakat waktu yang efisien dan efektif serta tata cara yang tepat,” pungkas Irna.(Adv/Yusuf/Sis)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here