Pemprov Banten Lakukan Kajian Pengembangbiakan Sapi Australia Untuk Penuhi Kebutuhan Daging di Banten

Pemprov Banten Lakukan Kajian Pengembangbiakan Sapi Australia Untuk Penuhi Kebutuhan Daging di Banten
Pemprov Banten Lakukan Kajian Pengembangbiakan Sapi Australia Untuk Penuhi Kebutuhan Daging di Banten

Centralnews – Serang, Pemprov Banten sedang mengkaji pengembangbiakan sapi jenis Brahman Cross di Banten. Pengembangbiakan sapi asal Australia itu, bertujuan untuk kebutuhan swasembada daging merah di Banten yang saat ini masih dominan mengandalkan impor.

Kepala Dinas Pertanian Provinsi Banten Agus M Tauchid mengatakan, pengembangbiakan sapi Australia di Banten sangat memungkinkan untuk dilakukan. Sebab, iklim Banten dan Australia memiliki kemiripan.

“Sangat mungkin (pengembangbiakan Sapi Brahman Cross). Wilayah (Banten) selatan iklimnya dengan Australia sangat dekat sekali (mirip),” ujar Agus Tauchid,Minggu (09/06/19).

Menurutnya, kebutuhan daging merah di Banten paling tinggi terdapat pada Ramadan, Idulfitri, Iduladha dan tahun baru. Untuk Idulfitri tahun ini saja kebutuhannya mencapai 7.076 ton atau setara 28.785 ekor sapi.

“Kebutuhan daging merah yang paling dominan di empat bulan itu. Untuk memenuhinya kita optimalkan feedlot dan RPH (rumah potong hewan),” ujarnya.

Dengan pengembangbiakan sapi jenis Brahman Cross, ia berharap kebutuhan daging di Banten akan tertutupi. Terkait Brahman Cros, kata dia, jenis ini sengaja dipilih karena paling umum diproduksi oleh feedlot penyuplai daging di Banten.

“Makanya pada empat periode itu sering terjadi inflasi. Agar bisa mengendalikannya, kuasi suplainya makan inflasi insya Allah terkendali. Kita pelajari pengembangan sapinya,” tuturnya.

General Manager PT Tanjung Unggul Mandiri (TUM) yang juga salah satu feedlot di Banten, Heroe Sinbad menuturkan, iklim Banten dengan Australia tidak jauh berbeda sehingga memungkinkan untuk pengembangbiakan sapi Jenis Brahman Cross.

“Pasokan kami impor dari Australia. Cuaca di Australia dengan di sini (Banten) sama. Sama panasnya,” ujarnya.

Kemiripan cuaca itu membuat pihaknya biasa terlebih dahulu melakukan penggemukan sapi impor asal Australia selama 100 hingga 110 hari. Meski demikian, kualitas daging sapi lokal lebih bagus dibanding daging impor. Sebab, sapi lokal memiliki tekstur daging yang lebih kering.

Sementara sapi impor sedikit berlemak. Adapun keunggulan sapi Australia terletak pada bobotnya yang bisa mencapai 475 hingga 550 kilogram per ekor.

“Untuk pemotongan sapi, PT TUM bekerja sama dengan 25 RPH. Kalau di sini (kandang PT TUM) hanya 10-15 ekor per malam. Selebihnya pemotongan di RPH Bayur 20 persennya, di Petir 12 persen,” tuturnya. (Ryd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here