IDI Sebut Persebaran Dokter yang Tak Merata Jadi PR

Foto: net, Ilustrasi gambar.

Centralnews – Jakarta, jumlah dokter di Indonesia saat kondisi normal telah mencukupi. Namun, persebarannya tidak merata.

Demikian dikatakan oleh Ikatan Dokter Indonesia (IDI).

“Secara jumlah dokter di Indonesia saat ini cukup untuk mencukupi seluruh rakyat. Masalahnya, dokter-dokter itu berkumpul di sejumlah kota dan provinsi tertentu,” ujar Sekjen PB IDI Moh Adib Khumaidi saat dihubungi, seperti dikutip dari detikcom, Kamis (30/4/2020).

“Persebaran dokter tidak merata karena bertumpuk di Pulau Jawa ataupun kota-kota besar,” imbuhnya.
dib mengatakan, jika mengacu pada beban kerja ideal, rasio satu dokter telah terlampaui. Namun, rasio itu dihitung dengan asumsi 20 persen rakyat yang sakit dalam situasi normal.

“Jika mengacu pada perhitungan beban kerja ideal dokter yang ditetapkan pemerintah, rasio satu dokter untuk 2.500 penduduk terlampaui. Rasio itu dihitung berdasarkan jumlah penduduk dengan asumsi 20 persennya sakit, luas wilayah, beban kerja, dan waktu layanan,” paparnya.

Loading...

Masih mengutip dari detikcom, Berdasarkan data Konsil Kedokteran Indonesia per 30 April, sebut Adib, setiap satu dokter melayani sekitar 1.400 penduduk Indonesia. Dia membandingkan dengan Malaysia yang di mana rasio satu dokter 1 melayani 1.100 penduduk.

“Menurut data Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) per 30 April 2020, jumlah dokter (di Indonesia) 186.105 orang. Artinya, satu dokter melayani 1400-an penduduk. Di Malaysia rasio dokter 1:1100-an. Di Singapura, pada 2013, satu dokter untuk 513 penduduk,” ungkap Adib.

Namun demikian pada umumnya dokter terkumpul di kota-kota besar. Menurut Adib, di berbagai wilayah Indonesia kebutuhan dokter belum terpenuhi.

“Mereka umumnya terkumpul di kota besar dan provinsi tertentu. Sebagai perbandingan, di DKI Jakarta, sebagai provinsi dengan rasio dokter terbaik, satu dokter menangani 608 penduduk. Di Sulawesi Barat, provinsi dengan rasio terburuk, satu dokter mengurusi 10.417 penduduk,” jelas Adib.

“Meski demikian, rasio satu dokter untuk 2.500 penduduk itu tak bisa diterapkan secara merata. Di Jawa Barat, Jawa Timur, dan Jawa Tengah, rasio dokter belum terpenuhi akibat jumlah penduduk besar. Di Indonesia timur, standar itu sulit diterapkan akibat wilayah luas, medan sulit, dan penduduk terpencar,” imbuhnya.

Sekitar 5 persen Puskesmas, lanjut Adib, tidak memiliki dokter sama sekali. Sekitar 9 persen Puskesmas memiliki dokter namun lokasi tinggal dokter jauh dari Puskesmas. 

“Di Indonesia bukan jumlah dokter kurang, tetapi sebaran tidak merata (maldistribusi). Di sisi lain, dari 9.731 puskesmas yang ada, 5 persen tak punya dokter sama sekali. Sementara 9 persen Puskesmas lain memiliki dokter, tetapi tempat tinggal dokternya jauh dari Puskesmas karena lokasi Puskesmas terpencil,” katanya.

Dia mengatakan saat pendemi virus Corona kemampuan pelayanan akan berbeda dan masih menjadi pekerjaan rumah hingga saat ini.

“Apa yang saya sampaikan itu dalam kondisi normal. Maldistribusi dokter tentunya mengakibatkan juga pelayanan kesehatan dan kemampuan kesehatan di wilayah berbeda-beda. Sehingga apabila terjadi Pandemi seperti Pandemi COVID ini maka kemampuan pelayanan kesehatan akan berbeda. Ini yang harus diantisipasi,” ungkap Adib.

“Apa yang disampaikan Pak Jokowi benar bahwa dalam kondisi normal ketersediaan SDM dokter akibat maldistribusi menjadi PR apalagi dengan kondisi ‘extra ordinary’ seperti pandemi COVID ini,” sambungnya. (TR)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here