BI Terus Dorong Pemulihan Ekonomi dalam Memasuki New Normal

Centralnews – Serang, Dalam memasuki new normal, Bank Indonesia terus menerus mendorong pemulihan Ekonomi Indonesia, dan BI Banten pun lakukan hal yang sama. Berikut pertanyaan dan jawaban terkait perkembangan ekonomi Banten di masa Pandemi dan memasuki New Normal dengan BI Banten dan beberapa perbankan. Jumat (36/06/20)

  1. Bagaimana perkembangan ekonomi Provinsi Banten tahun 2020?

Pandemi COVID-19 menyebabkan pertumbuhan ekonomi global mengalami penurunan. Diproyeksikan sepanjang 2020 ekonomi global tumbuh negatif 2,2% menurun dibandingkan pertumbuhan 2019 yang mencapai 2,9%. Perlambatan juga dialami oleh Indonesia yang pada triwulan I-2020 hanya tumbuh 2,97%.

Hal ini disebabkan oleh level konsumsi masyarakat yang mengalami penurunan seiring dengan penurunan ekspektasi pendapatan. Pada triwulan I-2020, Banten tumbuh sebesar 3,09%, berada di posisi kedua (setelah DKI Jakarta) dari 6 provinsi lainnya di Jawa. Namun demikian, pertumbuhan ekonomi Banten mengalami perlambatan dibanding triwulan IV-2019.

  1. Bagaimana kebijakan Bank Indonesia dalam rangka pemulihan ekonomi nasional?

Mencermati kondisi perekonomian Indonesia khususnya sebagai dampak penyebaran COVID-19, Bank Indonesia terus memperkuat bauran kebijakan yang diarahkan untuk memitigasi risiko penyebaran COVID-19, menjaga stabilitas pasar uang dan sistem keuangan, serta bersinergi dengan Pemerintah dan otoritas terkait dalam mempercepat Pemulihan Ekonomi Nasional.

Terdapat 5 kebijakan Bank Indonesia untuk mendukung pemulihan ekonomi nasional, yaitu menjaga stabiliasi nilai tukar rupiah, menurunkan suku bunga BI 7-days Reverse Repo Rate (BI-7DRR), menyediakan dana likuditas antara lain melalui repo SBN dan penurunan GWM, pelonggaran kebijakan makroprudensial serta menjaga kelancaran sistem pembayaran baik tunai maupun nontunai.

Loading...

Bank Indonesia melakukan pembelian SBN dari pasar perdana yang diarahkan untuk mendukung kebijakan stimulus fiskal, serta membuka instrumen penyesuaian likuiditas antara lain melalui term Repo berbagai tenor yang bertujuan untuk memperkuat fungsi intermediasi dan jasa keuangan ke sektor riil. Kedua langkah tersebut diharapkan dapat memberikan daya dukung kepada bergeraknya sektor riil agar ekonomi tumbuh.

  1. Langkah-langkah apa sajakah yang dilakukan oleh Bank Indonesia dalam menghadapi New Normal ?

Bank Indonesia senantiasa mendukung kebijakan kenormalan baru. Dengan adanya pelonggaran atau kenormalan baru, aktivitas ekonomi mulai berjalan secara bertahap. Pelaksanaan tugas kritikal di BI, tetap dilakukan melalui mekanisme split operation serta pengamanan kesehatan pelaksana tugas kritikal di bidang sistem pembayaran, pengedaran uang, pasar uang dan pasar valuta asing.

Sedangkan untuk tugas nonkritikal, penyesuaian proporsi keterlibatan jumlah pegawai baik yang berkerja dari rumah atau bekerja dari kantor akan dilakukan secara bertahap.

Bank Indonesia akan terus memperkuat koordinasi dengan Pemerintah dan OJK untuk memonitor secara cermat dinamika penyebaran COVID-19 dan dampaknya terhadap perekonomian Indonesia dari waktu ke waktu.

Langkah-langkah koordinasi kebijakan lanjutan yang perlu ditempuh untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan yang menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap baik dan berdaya tahan, juga akan terus dilakukan.

  1. Bagaimana perkembangan ekonomi syariah di tengah pandemi COVID-19?

Dalam jangka menengah, momentum pemulihan perekonomian dari dampak COVID 19, akan dimanfaatkan untuk mendorong pengembangan ekonomi syariah. Upaya transformasi pengembangan ekonomi dan keuangan syariah nasional, tetap akan difokuskan dengan pendekatan ekosistem.

Strategi pengembangan terintegrasi terus diperkuat dengan penerbitan Perpres nomor 28 tahun 2020 tentang Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS). Sejalan dengan rencana pembangunan Pemerintah, pengembangan ekonomi dan keuangan syariah akan mencakup (i) pengembangan industri produk halal; (ii) pengembangan industri keuangan syariah; (iii) pengembangan dana sosial syariah; dan (iv) pengembangan dan perluasan kegiatan usaha syariah.

  1. Bagaimana perbankan menyikapi kondisi New Normal ?

Beberapa pandangan perbankan dalam kaitannya dengan kondisi New Normal telah kami himpun.
Arief Gunawan dari Bank Woori Saudara yang juga Ketua BMPD Tangerang mengatakan bahwa pada kondisi new normal, bank memegang peranan penting dalam pemulihan ekonomi.

Saat ini, bank dituntut bergerak cepat dengan tetap menerapkan protokol kesehatan, yaitu mendorong nasabah melakukan transaksi melalui digital banking. Ke depan, perbankan diharapkan mendorong penggunaan uang digital dan mampu menerapkan teknologi tepat guna sehingga kontak langsung dengan nasabah dapat diminimalisir.

Termasuk mendigitalisasi “perjanjian kredit” yang saat ini masih membutuhkan tanda tangan basah dan kehadiran bersama notaris pada saat akad kredit. Hal tersebut kiranya dapat memberi daya dukung pertumbuhan ekonomi di era industri 4.0 dengan memanfaatkan teknologi secara maksimal.

Budi Mulia dari Bank Mandiri yang juga Ketua BMPD Serang mengatakan bahwa dalam menghadapi new normal, perbankan hendaknya fokus pada 2 (dua) hal yaitu restrukturisasi kredit pada debitur yang terdampak pandemi COVID-19 terutama segmen UMKM dan upaya peningkatan efisiensi dalam mengimbangi interest income yang melemah.

Ronny Rochim dari Bank Panin yang juga Ketua BMPD Cilegon, mengatakan bahwa adalah penting untuk memberikan pelayanan yang maksimal kepada masyarakat dalam menghadapi era new normal dengan protokol kesehatan yang baik.

Layanan melalui teknologi perbankan atau layanan digital akan lebih efektif karena transaksi dapat dilakukan tanpa dibatasi ruang dan waktu sehingga kesehatan dapat terjaga, bisnis terus berjalan dengan fasilitas dan kemudahan yang ditawarkan.

Sofyan dari Bank Bukopin mengatakan bahwa dengan meningkatnya kembali aktivitas masyarakat seiring dengan penerapan kebijakan new normal, perbankan perlu berperan secara optimal dalam memenuhi kebutuhan para pelaku ekonomi dalam pelayanan jasa perbankan.

Dengan kemudahan akses likuiditas akan menstimulus peningkatan nilai tambah transaksi sehingga mendorong pertumbuhan ekonomi secara bertahap kembali seperti sedia kala. Kebijakan stimulus likuiditas sangat dibutuhkan sebagai “suplemen energi” bagi sektor riil dalam menciptakan produk dan komoditas yang diperlukan masyarakat sehingga sektor riil dapat terus eksis dan survive di tengah pandemi yg belum mereda.

Bank Indonesia berharap perbankan di Provinsi Banten terus berperan optimal dalam mendorong pertumbuhan ekonomi dan siap dengan dukungan tekonologi dalam era digitalisasi layanan dan semakin berkembangnya instrumen pembayaran non-tunai, seperti halnya penerapan Quick Response Indonesian Standard (QRIS) di Provinsi Banten dimana terdapat ±190.000 pengguna QRIS antara lain merchant, pasar, rumah ibadah. (Ka/TR)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here