Empat Santriwati, Di Duga Jadi Korban Pelecehan Seksual Di Pesantrennya

ilustrasi foto dari justice Law

Centralnews- Serang, Empat orang santri di duga menjadi korban pelecehan seksual oleh salah satu oknum pengajar disebuah pondok pesantren (ponpes) di Kecamatan Padarincang, Kabupaten Serang. Para korban bersama orang tua dan Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Serang mendatangi Polres Serang Kota, untuk dikonfrontir dengan terduga pelaku.

Salah satu orangtua korban, Sa (48), mengaku awalnya mengetahui anaknya menjadi korban pelecehan seksual dari petugas P2TP2A Kabupaten Serang yang mendatangi kediamannya.

“Ya enggak tahu ya, saya dapat laporan, sebelumnya saya enggak tahu ada kejadian di ponpes Padarincang, (pernah cerita) enggak pernah sama sekali, anak saya mah tertutup,” kata orangtua korban, Sa (48), ditemui di Mapolres Serang Kota, Senin (27/07/2020).

Putrinya sudah berada di ponpes tersebut sekitar satu tahun belakangan. Saat akan berangkat mondok, dijemput langsung oleh terduga pelaku berinisial JMJ. Pelecehan seksual terhadap para santri di duga terjadi bukan April 2020.

“Sudah mondok satu tahun lebih. Saya belum pernah ke pondok. Ngakunya salafi, kalau begini bukan salafi. Mondok disitu dijemput sama JMJ. Kata anak-anak mah kejadiannya pas mau puasa,” terangnya.

Loading...

Begitupun yang diceritakan oleh orangtua korban lainnya, Nh (45), dia menhaku kaget mendengar kejadian nahas yang di alami putrinya. Lantaran, sang anak tidak pernah bercerita apapun kepadanya.

“Anak ini mondok disitu, sampai kejadian begitu, tapi di tanya sama sekali enggak ada jawaban, tapi hasil visumnya begitu,” kata Nh (45), dilokasi yang sama, Senin (27/07/2020).

Kemudian menurut kuasa hukum terlapor atau oknum pengajar disebuah ponpes di Padarincang, Kabupaten Serang, mengaku sampai saat ini klien nya masih berstatus saksi. Pihaknya mengaku siap menjalani semua proses hukum yang sedang berlangsung.

Jika memang terbukti melakukan pelecehan seksual terhadap santrinya, maka di ancam Undang-undang (UU) nomor 17 tahun 2016, tentang perlindungan anak.

“Kelanjutannya menunggu, karena kita terlapor, kita menunggu. Kalau ada agenda panggilan selanjutnya, kami akan sampaikan ke klien kita. Sampai saat ini, klient kita masih saksi terlapor. Sampai saat ini di duga terkena pasal 82 ayat 1, tentang Undang-undang nomor 17 tahun 2016,” kata pengacara oknum tenaga pengajar di ponpes tersebut, Joashua Tampubolon, dilokasi yang sama, Senin (27/07/2020).

Sedangkan menurut petugas P2TP2A Kabupaten Serang, yang mendampingi para korban sejak pertama kali mengaku sudah memberikan pendampingan hukum hingga psikologis. Juga ikut serta selama proses penyelidikan dan penyidikan yang dilakukan oleh pihak kepolisian.

“Kita hanya fokus sama korban, dari awal korban memang pendampingan, aduan dari korban, terus kita bantu pendampingan hukum ke polres, juga visum ke RS dan jyga pendampingan pemanggilan ke polres. Kita juga kunjungan ke rumah,” kata staff pengaduan P2TP2A Kabupaten Serang, Laila Purnamasari, dilokasi yang sama, Senin (27/07/2020).

Menurut Laila, sejak ditemukannya kasus tersebut, para korban kemudian dibawa ke rumah aman dan diberikan pendampingan psikologis. Setelah dirasa aman dan memadai, korban dikembalikan ke orangtuanya.

“(Korban) sudah kita pulangkan, awalnya dirumah aman. Waktu dirumah aman, ada pendampingan psikologis, sampai rumah sudah ceria lagi. Kasihan masih anak-anak,” jelas wanita cantik berjilbab hijau dengan motif kembang-kembang ini. (Yandhie/Ka)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here