Angka pengangguran Naik 3,7 Juta dalam Hitungan Bappenas

Centralnews – Jakarta, Perihal perihal langkah pemerintah melebarkan defisit anggaran dalam RAPBN 2021 menjadi 5,2% terhadap PDB, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa berharap kebijakan itu dapat memulihkan ekonomi, termasuk menciptakan lapangan kerja.

Hal ini lantaran pandemi Covid-19 telah berdampak pada tambahan jutaan pengangguran di tanah air, selama pandemi covid-19 yang sudah berlangsung 5 bulan di Indonesia.

“Dengan naiknya defisit dari 4,5% (hasil pembicaraan dengan DPR RI) menjadi 5,2% atau sekitar 0,7% maka tentu ada ruang fiskal yang cukup untuk belanja. Tapi tadi sesuai dengan persetujuan bapak presiden tadi, angka kenaikan itu akan didesain sedemikian rupa yang dapat memberikan implikasi yang positif terhadap pemulihan ekonomi. Utamanya untuk mencegah terjadinya bertambahnya jumlah orang miskin, bertambahnya pengangguran. Itu semua akan kita cegah dengan cara seperti itu,” ujar Suharso selepas ratas seperti dikutip dari CNBC Indonesia, Selasa (28/7/2020).

“Angka pengangguran hari ini cukup lumayan kenaikannya sekitar 3,7 juta dalam hitungan Bappenas. 3,7 juta sebuah angka yang relatif besar. Karena sekarang itu kita itu sekitar 7 jutaan. Jadi dengan 3,7 juta artinya karena pandemi ini ada kenaikan 50% dari yang ada. Ini yang akan kita pulihkan. Bagaimana pada tahun 2021 secara bertahap hal seperti ini kita bisa atasi,” lanjutnya.

Atas hal tersebut, Soharso mengaku belum dapat memerinci desain program-program yang akan dilakukan tahun depan. Yang pasti sektor-sektornya meliputi industri, pariwisata, kesehatan dan pangan. Semua ini diyakini memberikan implikasi yang kuat terhadap penciptaan lapangan kerja.

Loading...

Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam konferensi pers usai rapat terbatas melalui video conference, Selasa (28/7/2020) mengatakan, defisit anggaran dalam RAPBN 2021 dipatok di kisaran 5,2% dari produk domestik bruto (PDB). Angka defisit ini jauh lebih besar dari yang sebelumnya disepakati antara pemerintah dan DPR beberapa waktu lalu.



Sri Mulyani menuturkan, pemerintah mengusulkan defisit anggaran 2021 berada di rentang 3,21% hingga 4,17% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Namun, angka defisit yang disepakati kini bertambah.

Untuk diketahui, sebelumnya bendahara negara bersama parlemen telah membahas defisit anggaran dalam postur RAPBN 2021 yang terangkum dalam Kebijakan Ekonomi dan Pokok Kebijakan Fiskal Tahun 2021.



Masih mengutip dari CNBC Indonesia, Sri Mulyani mengatakan melebarnya defisit tak lepas dari masih adanya ketidakpastian karena pandemi Covid-19. Alhasil, pemerintah memutuskan untuk memperlebar defisit agar bisa memberikan bantalan untuk menangani masalah Covid-19.



“Ini yang kemudian disampaikan. Presiden minta dinaikkan supaya kita punya bantalan tambahan apabila kita tidak tahu kapannya atau ketepatannya dan seberapa kecepatan turunkan Covid-19 di Indonesia,” ujar Sri Mulyani. (TR)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here