Soal Nasib HGU, DPRD Lebak Segera Rampungkan Rekom RDP

Cebtralnews.co.id

Centralnews – Lebak, DPRD Kabupaten Lebak fasilitasi terkait nasib pembaharuan ijin Hak Guna Usaha.  Pekan ini para wakil rakyat tersebut, dipastikan bakal merampungkan rekomendasi akhir Rapat Dengar Pendapat (RDP)  soal Peraturan Presiden (Perpres) dan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 86 tahun 2018, tentang Tanah Objek Reforma Agraria (TORA), yang digelar Selasa (2/9) di ruang Paripurna DPRD Lebak.

Di paparkan Bangbang SP, anggota DPRD Lebak, menurutnya  rapat pembahasan rekomendasi RDP, merupakan sebuah kesimpulan RDP,  pasca DPRD mendengarkan sejumlah  pendapat dan keterangan para pihak. Dimana rapat tersebut, di hadiri Pimpinan dan anggota DPRD Lebak, perwakilan Bupati Lebak, Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kantor Wilayah (Kanwil) Provinsi Banten, BPN Lebak, Kantor Pajak Pratama (KPP) Pandeglang-Lebak, Badan Pendapatan Daerah (Bapenda),Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), perwakilan perusahaan perkebunan, Kepala Desa serta unsur terkait lainnya.

” Semua stake holder dan pemangku kepentingan yang kami undang hadir. Hanya satu yang tidak hadir tanpa keterangan, yaitu dari Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Lebak. Insyaallah, rekomendasi RDP ini segera kami layangkan ke para pemangku kebijakan hingga di tingkat Kementrian. Tujuannya, agar polemik ini dapat terurai dengan semestinya dan konstitusional,” katanya,Jumat (4/9) di Rangkasbitung.

Saat ditanya, apa saja materi yang ada di rekomendasi RDP tersebut. Bangbang menyatakan, jika hal itu belum saatnya untuk di ekspose, yang jelas semua merupakan hasil kesimpulan saat RDP bergulir.

Dimana, lanjut Bangbang, semua pihak berkepentingan telah didengarkan pendapatnya oleh DPRD, selaku lembaga yang untuk kali ketiga, memfasilitasi polemik berkepanjangan antara Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lebak dengan perusahaan perkebunan. 

Loading...

Khususnya, lanjut Bangbang, polemik itu berkaitan dengan rekomendasi perpanjangan ijin Hak Guna Usaha (HGU), baik untuk Perkebunan Besar Swasta (PBS), maupun yang dikelola Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Dimana hingga saat ini, maraknya permohonan rekomendasi PBS dan BUMN terganjal karena persoalan kebijakan konfensasi yang dinilai memberatkan para investor perkebunan tersebut.

” Adanya polemik yang cukup panjang ini, dimungkinkan karena Pemkab coba menerapkan nilai konfensasi 60 persen, atas perpanjangan ijin HGU secara maksimal. Bukan target minimal 20 persen, seperti di jabarkan dalam Perpres maupun PP 86 tahun 2018,” terangnya.

Menyikapi hal itu, M. Roji Santani Ketua Dewan Pimpinan Wilayah Barisan Gusdur (DPW- BGD) Provinsi Banten, mengharapkan agar semua pihak benar-benar mendudukan persoalan HGU ini  selaras aturan. Dimana Pemkab selaku pemegang rekom ijin HGU, hendaknya dapat menempatkan hal itu secara proforsional.

” Kalau besaran konfensasi itu memberatkan para pengusaha, sebaiknya itu dipertimbangkan secara matang. Sebab bagaimaa pun, kehadiran perkebunan baik swasta maupun BUMN, turut berkontribusi terhadap pendapatan asli daerah, ya dari sektor pajak bumi, kan  cukup besar juga itu,” terangnya.

Terpisah, Alkadri, Assisten Daerah (Asda) dua setda Lebak, melalui pesan watchaffs menyebutkan dua contoh perkebunan yang belum diperpanjangnya HGUnya.  Diantaranya, HGU PTPN VIII dan HGU PT. Bantam Preanger,  menurutnya, dilahan BUMN tersebut saat masih adanya konflik lahan dengan masyarakat. Sementara untuk PT. Bantam pemkab sudah memberikan kesempatan untuk nego soal konfensasi, tapi hingga kini belum ada jawaban.

” Pada prinsifnya kami (Pemkab) siap merekom perpanjangan HGU. Tapi seperti PTPN VIII saja, kami beri kesempatan untuk menyelesaikan konflik dengan masyarakat, tapi belum selesai hingga kini. Untuk PT.Bantam,managemen Perusahaan itu tidak kunjung menjawab upaya negosiasi konfensasi dengan Pemkab Lebak, artinya kami sudah ada upaya untuk itu,” tukasnya. (Drie)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here