Catatan Akhir Tahun, Rusaknya Ekosistem Alami di Banten

 

Centralnews – Serang, Pena Masyarakat Banten memberikan catatan akhir tahun, yakni masih adanya kejahatan lingkungan di wilayah Banten yang dilakukan secara terstruktur, sistematis dan massif (TSM). 

Dalam catatan penggiat aktifis di Banten ini, masyarakat semakin terpinggirkan terhadap akses sumber kehidupan, infrastruktur yang tidak berkeadilan, kelestarian ekosistem alami mendapatkan tekanan dari industri, hingga bencana ekologis akibat pengrusakan lingkungan hidup. 

“Dalam satu tahun terakhir, produk hukum dan program yang berdampingan besar terhadap sosial lingkungan masyarakat Banten. Omnibus law dan Pojek Strategia Nasnional (PSN) yang tersebar di Banten meningkatkan intensitas bencana diberbagai daerah, sehingga banyak penolakan di masyarakat bawah”, kata Mad Haer Efendi, selaku Direktur Pena Masyarakat, melalui pesan elektroniknya, Selasa (29/12/2020).

Menurutnya, segala kebijakan yang ada di Banten, kerap merusak ekosistem alami yang ada. Pria yang akrab disapa Aeng mencontohkan, maraknya penambangan liar di darat maupun laut, alih fungsi lahan, hingga pembangkit listrik berbahan bakar fosil.

Loading...

“Menjadi salah satu kegiatan yang berdampak besar terhadap rusaknya ekosistem,” terangnya.

Kemudian dalam rilisnya, Ridho Sholeh, penulis buku Menghijaukan HAM dan Ecocide, memaparkan hak asasi lingkungan hidup.

Ridho juga mengamini kejahatan lingkungan hidup merupakan kejahatan luar biasa, karena melanggar hak asasi manusia serta dilegalkan pemerintah.

“Esensi lingkungan dan esensi manusia merupakan hak asasi lingkungan yang takan pernah terpisahkan. Banten bisa dikatakan memiliki SDA yang strategis sehingga berakibat pada ketimpangan penguasaan sumber daya,” umat Ridho, dalam rilisnya, Selasa (29/12/2020). (Yandhi/TR)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here