Selama Ramadhan, BPOM Serang Temukan 33 Sarana Distribusi Tidak Memenuhi Ketentuan

Centralnews-Serang, Intensifikasi pengawasan pangan selama Ramadhan dan hari raya Idul Fitri merupakan salah satu pengawasan post-market yang dilakukan Badan POM untuk lebih meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bahaya produk pangan yang Tidak Memenuhi Ketentuan (TMK).

Hal ini dilakukan melalui pengawasan pangan olahan kemasan berfokus pada pangan Tanpa Izin Edar (TIE)/ilegal, pangan kedaluwarsa, dan pangan rusak. Serta pengawasan pangan jajanan buka puasa/takjil yang berpotensi mengandung bahan berbahaya yang dilarang digunakan dalam pangan. 

Kepala Balai Besar POM di Serang  Trikoranti Mustikawati mengatakan intensifikasi pengawasan pangan selama Ramadhan dan Idul Fitri tahun 2021 yang dilakukan bekerja sama dengan lintas sektor terkait, seperti Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Dinas Ketahanan Pangan, Dinas Kesehatan dan Dinas Pertanian, baik Provinsi maupun Kabupaten/ Kota, Balai Besar POM di Serang telah memeriksa 49 sarana distribusi pangan (mulai 1 minggu sebelum puasa hingga minggu ke-3 bulan Ramadhan). 

“Hasil pengawasan menunjukkan masih terdapat 33 (67,35%) sarana distribusi yang TMK karena menjual produk pangan rusak, pangan kedaluwarsa, dan pangan ilegal. Sarana distribusi yang diperiksa terdiri dari gudang distributor/ importir dan sarana ritel pangan,”Ungkap Trikoranti, saat konferensi pers, Senin (10/05/21)

Dari 33 sarana distribusi yang TMK, ditemukan 144 item sekitar (1667 pcs) produk pangan TMS yang terdiri dari 20 item (41 pcs, 13,89%) pangan kedaluwarsa, 43 item sekitar (1495 pcs, 29,86%) pangan illegal, dan 81 item sekitar (131 pcs, 56,25%) pangan rusak. Di temukan di beberapa retail dan 

Loading...

“Temuan tersebut diperoleh di sarana ritel dan gudang importir. Temuan pangan rusak (susu kental manis kemasan kaleng), pangan kedaluwarsa (roti tawar & produk bakery, susu UHT, kerupuk), dan pangan TIE (pangan kemasan impor seperti kopi bubuk, saus/ bumbu,”imbuh Trikoranti

Untuk pangan jajanan buka puasa, pada tahun 2021 jumlah pangan yang disampling sebanyak 266 sampel, sebesar 27 (10,15%) sampel TMS mengandung bahan berbahaya. Sebanyak 19 (70,37%) sampel positif mengandung formalin dan 8 (29,63%) sampel positif mengandung boraks. Pangan yang mengandung formalin yaitu tahu, teri, agar-agar dan cincau, sedangkan pangan yang mengandung boraks yaitu kerupuk tahu, sotong, dan cincau. 

‘Komitmen Badan POM untuk mengawal keamanan pangan dan melindungi kesehatan masyarakat terus dilakukan meskipun dalam masa darurat pandemi COVID-19 dengan tetap berpedoman pada protokol kesehatan,” pungkas Trikoranti

Untuk masyarakat, sebelum membeli, ingat selalu Cek KLIK (Cek Kemasan, Cek Label, Cek Ijin Edar & Cek Kedaluwarsa). (Ka)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here