Menghindari SARA dan Bijak Di Media Sosial Untuk Terwujudnya Bhineka Tunggal Ika

Centralnews- Serang, Ruang digital atau ruang siber merupakan sebuah ruang yang terkonstruksi akibat perkembangan teknologi informasi dan komunikasi khususnya internet. Ruang siber ini didefinisikan sebagai ruang imajiner yang memungkinkan orang-orang beraktivitas dengan memunculkan konsep artifisial. Ruang digital memberikan pengaruh kepada pola interaksi masyarakat.

Laporan dari media Inggris We are Social yang bekerjasama dengan Hootsuite dalam judul “Digital 2021: The Lates Insight Inti The State of Digital” memaparkan bahwa dari total populasi di Indonesia sebanyak 274,9 juta jiwa, pengguna aktif media sosial mencapai 170 juta, setara dengan 61,8% dari total populasi di Indonesia. Syaifullah menjelaskan bahwa terdapat adanya potensi hoax dan ujaran kebencian di ruang digital. 

Juru Bicara Kominfo, Dedy Permadi, menyampaikan sejak tahun 2018 kominfo telah menangani 3640 konten yang mengandung SARA  dan telah di-takedown. Penyebaran hoax dan konten SARA menjadi salah satu dampak negatif dalam meluasnya penggunaan internet serta ruang digital

“Saya meyakini dengan menerapkan nilai-nilai Pancasila dan semboyan Bhineka Tunggal Ika, diharapkan ruang digital bisa menjadi tempat yang bisa memperkuat integrasi nasional, dan sebagai ruang yang aman untuk stabilitas negara,” paparnya dalam acara “Webinar Series: Ngobrol bareng Legislator” Interaksi di Ruang Digital: Hargai Perbedaan, Hormati Keberagaman, Senin (28/03/22)

Sementara Dirjen Aptika Kemkominfo, Samuel A. Pangerapan, B.Sc mengatakan penggunaan internet akan menimbulkan beberapa resiko, seperti penipuan online, hoax, cyber bullying dan konten-konten negatif lainnya. Oleh karena itu, penggunaan internet perlu dibantu dengan kapasitas literasi digital yang mumpuni agar masyarakat dapat memanfaatkan dengan produktif, bijak, dan tepat guna.

Loading...

Mengenai cara menjaga literasi di ruang digital dengan menghormati perbedaan dan keberagaman, Khairi Fuady memaparkan bahwa perbedaan ini harus dijadikan sebagai alat pemersatu bangsa dan media untuk berkomunikasi dengan masyarakat lain. Jangan menjadikan perbedaan sebagai pemicu perkelahian antar masyarakat dengan latar belakang yang berbeda. 

“Menurut saya, dalam mewujudkan Bhineka Tunggal Ika di ruang digital masyarakat harus menghindari SARA dan bijak dalam menanggapi berita-berita hoax,” tegas Khairi. (Yandhie/Ka)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here