Sebanyak 171 Juta Pengguna Media Sosial Rawan Menjadi Pelaku Sekaligus Terkena Dampak Kekerasan Online

Centralnews- Serang, Pengguna media sosial saat ini sudah sangat massive dari anak kecil hingga yang sudah tua baik itu untuk kegiatan belajar, bisnis, atau berjualan. Kresna Dewanata Phrosakh mengatakan bahwa media sosial bisa digunakan secara tepat dan positif sehingga tidak terjadi dampak-dampak yang negatif seperti bullying, pembunuhan karakter, bahkan penyebaran rumor yang tidak baik. 

“Saya mengamati salah satu bentuk kekerasan online yaitu cyber hacking. Hacker memiliki tujuan untuk mengambil akun media sosial kemudian merusak data yang ada di dalam media sosial kita dan menyebarkan info yang tidak benar,” paparnya dalam acara “Webinar Series: Ngobrol bareng Legislator” Peran Media Sosial Dalam Memberantas Kekerasan Online (30/03/2022).

Menurut Kresna banyak akun media sosial yang digunakan tidak semestinya akibat dari adanya peretasan. Selain itu, terdapat juga akun-akun media sosial yang mendoktrinasi orang-orang untuk melakukan tindakan radikal. Anak-anak muda pun tak luput dari isu-isu ataupun upaya cuci otak sehingga mereka tertarik dengan hal-hal yang radikal.

Dirjen Aptika Kemkominfo, Samuel A. Pangerapan, B.Sc mengatakan penggunaan internet akan menimbulkan beberapa resiko, seperti penipuan online, hoax, cyber bullying, dan konten-konten negatif lainnya. Oleh karena itu, penggunaan internet perlu dibantu dengan kapasitas literasi digital yang mumpuni agar masyarakat dapat memanfaatkan dengan produktif, bijak, dan tepat guna.

Berdasarkan data yang diperoleh Fajar Nursahid, ada sekitar 171 juta pengguna sosial media di Indonesia sehingga sekarang sangatlah mudah untuk saling terkoneksi dalam dunia maya. “Menurut saya media sosial merupakan sesuatu yang serba ada, tidak kenal waktu. Betapa kita menjadikan media sosial menjadi bagian yang tidak bisa lepas dari kehidupan kita,” sambungnya. 

Loading...

Terkait dengan kekerasan online, Fajar mengatakan media sosial menjadi media yang paling berkontribusi dalam terjadinya kekerasan online sehingga memiliki dampak yang serius, membuat tidak nyaman, dapat membahayakan, dan mengganggu mental serta psikis seseorang.

Fajar juga menambahkan bahwa saat ini masyarakat masuk dalam era point of no return. “Masyarakat berkompromi dan beradaptasi tapi juga melakukan adaptasi kultural. Digitalisasi sejatinya merupakan kultur yang baru jadi harus beradaptasi dan memperkuat nilainya. Gunakan seperlunya untuk menunjang produktivitas sehingga media sosial jadi lebih bermanfaat,” pungkas Fajar. (Yandhie/Ka)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here