Luwu  

Pokja Minta Pengumuman Rekrutmen AMP Diumumkan di Ruang Publik

Ketua Pokja Percepatan Investasi Kabupaten Luwu, H. Sofyan Thamrin (kanan), bersama anggota Pokja saat menggelar rapat bersama perwakilan manajemen PT Masmindo Dwi Area (MDA) di salah satu kafe di Belopa, Sabtu, 25 Oktober 2025. (ist)

LUWU, TEKAPE.co – Tim Kelompok Kerja (Pokja) Percepatan Investasi Kabupaten Luwu meminta PT Masmindo Dwi Area (MDA) dan seluruh kontraktornya untuk mengedepankan transparansi serta menghargai kearifan lokal dalam menjalankan aktivitas pertambangan Awak Mas Project (AMP) di Kecamatan Latimojong.

Permintaan itu disampaikan dalam rapat Pokja bersama perwakilan manajemen PT MDA yang digelar di salah satu kafe di Belopa, Sabtu, 25 Oktober 2025.

Ketua Pokja Percepatan Investasi Luwu, H. Sofyan Thamrin, mengatakan pihaknya mendorong agar proyek pertambangan AMP segera memasuki fase produksi. Namun, selama masa konstruksi, perusahaan dinilai perlu lebih terbuka dalam proses rekrutmen tenaga kerja.

“Pokja sangat mendorong pertambangan AMP di Latimojong segera memasuki fase produksi. Namun demikian selama proses konstruksi ini dibutuhkan banyak penerimaan tenaga kerja, baik skill maupun non-skill. Terkait hal itu, kami meminta MDA dan subkontraktornya dapat mengumumkan bukan hanya di media sosial, tetapi juga ditempel di ruang publik, seperti papan pengumuman kantor desa, pusat keramaian, sekolah, bahkan di masjid-masjid,” ujar Sofyan Thamrin.

Sofyan menegaskan agar PT MDA dan para subkontraktor lebih aspiratif terhadap kritik dan masukan dari masyarakat yang tinggal di sekitar area tambang dan jalur akses proyek.

“Kami mengikuti setiap Forum Desa yang dilaksanakan MDA di desa-desa lingkar dan akses tambang. Di situ banyak keluhan dan kritik. Kami harap masukan masyarakat ini dapat ditindaklanjuti sehingga dampaknya bisa diminimalisir,” kata Sofyan.

Menurutnya, sejumlah keluhan warga yang kerap muncul di forum desa antara lain soal debu di jalan akibat mobilisasi material, perilaku ugal-ugalan pengemudi armada tambang, serta minimnya dukungan terhadap kegiatan ekonomi lokal seperti pertanian, perkebunan, peternakan, dan usaha mikro.

Warga juga meminta PT MDA memperhatikan dampak lingkungan, khususnya menjaga kelestarian Daerah Aliran Sungai (DAS) Suso sebagai sumber air masyarakat agar tidak tercemar limbah berbahaya dari aktivitas tambang. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *